Pergolakan

Geger Kongo Telantarkan 37.000 Orang

Kompas.com - 17/07/2010, 06:16 WIB

KINSHASA, KOMPAS.com - Serangan oleh militer Republik Demokratik Kongo terhadap pemberontak Uganda telah menelantarkan lebih dari 37.000 orang di bagian timur negara yang sangat luas itu.

"Kami telah mendaftar sebanyak 37.000 orang terlantar," kata seorang pejabat Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Jumat (16/7/2010).

Pejabat yang minta tidak disebutkan namanya itu mengatakan, orang-orang desa itu melarikan diri dari pertempuran antara pemberontak Pasukan Demokratik Sekutu/Tentara Nasional untuk Pembebasan Uganda (ADF/NALU) dan pasukan bersenjata (FARDC) pada 26 Juni.

Pada awal pekan ini, jumlah orang yang terlantar akibat bentrokan itu dicatat oleh PBB sekitar 20.000 orang, di sebuah daerah tidak jauh dari perbatasan dengan Uganda. "Kami akan melakukan langkah-langkah untuk memasok mereka dengan bantuan yang dibutuhkan," katanya.

Juru bicara militer, Mayor Sylvain Ekenge, memastikan bahwa operasi militer telah berlangsung di dekat gunung Ruwenzori, perbatasan antara DR Kongo dan Uganda.

"Kami mendapat lebih dari 30 pemberontak ADF/NALU -Kongo dan Uganda- yang tewas dan sembilan tertangkap sejak awal operasi," kata pejabat itu.

Ekenge memperkirakan, jumlah pemberontak itu sedikitnya 800 orang, dari jumlah itu sebagian terbesar adalah orang Kongo. 

ADF telah memerangi militer reguler Uganda di daerah Ruwenzori khusunya antara 1996-2001, mengklaim bahwa mereka berperang untuk memperoleh hak-hak yang sama bagi masyarakat muslim Uganda.

Setelah bentrokan yang menelantarkan puluhan ribu orang, gerakan pemberontak itu akhirnya diusir melintasi perbatasan ke DR Kongo.

ADF sudah berusaha beberapa kali sejak akhir 2008 untuk memulai perundingan dengan pemerintah Uganda, tapi pemerintah Presiden Yoweri Museveni telah menyampaikan keraguan mengenai kesungguhan hati usulan itu. ADF mengancam untuk memulai lagi permusuhan jika tidak ada pembicaraan.

Serangan FARDC terhadap ADF berlangsung dengan tanoa bantuan logistik dari Misi PBB di DR Kongo (MONUSCO), tidak seperti operasi lainnya di bagian timur negara itu sejak awal 2009.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau