JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah terpukul data ekonomi yang memburuk di akhir pekan lalu, pasar finansial di Wall Street menghadapi tantangan berat untuk pulih dalam sepekan mendatang.
Kinerja beberapa emiten besar, terutama di sektor perbankan dan keuangan, akan menentukan nasib bursa saham. Selain itu, laporan data perumahan Amerika Serikat (AS) yang akan keluar juga patut dicermati.
Dalam sepekan mendatang, tak kurang ada 12 emiten komponen Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang mengumumkan laporan keuangan kuartal II-2010. Di antaranya adalah Goldman Sachs Group Inc dan Morgan Stanley. Adapun dari sektor teknologi, Apple Inc, Texas Instruments Inc dan Qualcomm Inc juga akan merilis kinerjanya.
Sulit untuk menebak kinerja emiten-emiten tersebut, mengingat, pekan lalu, Intel Corp dan Google Inc melaporkan dua laporan keuangan yang sangat kontras. Yang satu membaik, yang lainnya terpuruk. Selain itu, General Electric Co, Bank of America Corp, dan Citigroup telah melaporkan laba bersih kuartal II yang memburuk dibandingkan setahun sebelumnya.
Sementara, dari sisi makro ekonomi, pekan depan, kita juga akan memperoleh gambaran tentang perkembangan industri perumahan AS. Pada hari Selasa akan muncul laporan tentang penjualan rumah di bulan Juni.
Para ekonom yang disurvei Reuters memprediksi, angka penjualan rumah yang sudah disesuaikan dengan penjualan musiman (seasonally adjusted) akan turun tipis menjadi 580.000 unit di bulan Juni, dari 593.000 pada bulan sebelumnya.
Menyusul berikutnya, pada hari Kamis, data penjualan rumah siap pakai (existing) akan dirilis. Masih menurut survei Reuters, angka penjualan rumah jenis ini akan merosot 8.1% di bulan Juni. Angka ini lebih besar disbanding penurunan di bulan Mei yang hanya 2,2 persen.
Tentu saja, laporan data yang buruk—apalagi lebih buruk dari prediksi para ekonom—akan meniupkan sentimen negatif ke pasar finansial. Apalagi, pekan lalu, beberapa data sementara yang muncul menunjukkan bahwa ekonomi AS masih lemah.
Pekan lalu, hasil survei The Thomson Reuters/University of Michigan menunjukkan bahwa angka sentimen konsumen AS di bulan Juli merosot tajam menjadi 66,5 dari 76 di bulan Juni. Ini merupakan angka terendah dalam 11 bulan terakhir. Sebelumnya, US Labor Department melaporkan bahwa Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index) turun 0,1% di bulan Juni.
Laporan indeks harga yang turun memicu kekhawatiran bahwa ekonomi AS akan terjebak dalam pusaran deflasi. Selain itu, dalam kondisi seperti ini, perusahaan juga akan cenderung menahan ekspansi dan produksi lantaran khawatir harga di pasar semakin terpuruk.
Sudut pandang teknikal
Yang lebih mengkhawatirkan, dari sisi teknikal, prospek Wall Street juga tak terlalu cerah. Indeks Standard & Poor’s (S&P) terjebak dalam kisaran pergerakan yang ketat setelah gagal mempertahankan angka moving average 50 hari di kisaran 1.090.
Di saat yang sama, indeks Nasdaq juga tak berhasil menembus angka moving average 200 hari. Kini support Nasdaq ada kisaran moving average 14 hari atau sekitar level 2.171.
Catatan saja, pada hari Jumat (16/7/2010), indeks Dow longsor 2,5 persen ke angka 10.097,9 dan S&P merosot 2,9 persen ke angka 1.064,88. Sementara, Nasdaq turun 3,11 persen menjadi 2.179,05.
Jika dihitung, dalam sepekan, Dow telah turun 1 persen, S&P melemah 1,2 persen, dan Nasdaq terpangkas 0,8 persen. (Cipta Wahyana/Kontan)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang