Korut Tawaran Lanjutkan Perundingan

Kompas.com - 18/07/2010, 13:56 WIB

SEOUL, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Yu Myung-Hwan, Minggu (18/7/2010) menyatakan skeptis mengenai tawaran baru Korea Utara untuk melanjutkan kembali perundingan enam negara, yang macet tentang perlucutan nuklirnya.

"Pyongyang kini sedang berupaya untuk membelokkan tekanan, setelah dipersalahkan Seoul dan sekutu-sekutunya atas tenggelamnya sebuah kapal perang Korea Selatan Maret lalu," kata Yu kepada televisi nasional.

"Adalah sangat disesalkan bahwa Korea Utara kini sedang berusaha menyalahgunakan perundingan enam negara untuk membuat alasan guna menghindari perhatian dunia kepada insiden Cheonan," kata Yu kepada KTV.

Korea Utara mengatakan, secara prinsip pada 10 Juli pihaknya bersedia kembali ke perundingan perlucutan nuklir, setelah PBB gagal secara langsung menyalahkan pihaknya, untuk serangan mematikan terhadap Cheonan yang menewaskan 46 pelaut.

Perundingan-perundingan yang melibatkan kedua Korea, AS, China, Jepang dan Rusia itu dihentikan sejak Korea Utara keluar dari forum tersebut pada April 2009.

Korea Utara sebelumnya menyatakan kesediaan secara prinsip untuk kembali ke meja perundingan.

Namun lebih dulu pihaknya ingin AS menyetujui menyelenggarakan perundingan-perundingan tentang perjanjian perdamaian, untuk secara resmi mengakhiri perang 1950-1953, dan menghentikan sanksi-sanksi.

"Kini bukan saatnya lagi untuk membahas kelanjutan kembali perundingan enam negara dengan adanya beberapa tindakan Korea Utara," kata Yu.

Korea Selatan dan AS, merujuk pada penemuan-penemuan investigasi multinasional, menuduh Korea Utara mentorpedo kapal perangnya, namun Korea Utara dengan marah membantah tuduhan keterlibatan tersebut.

Dewan Keamanan PBB mengeluarkan pernyataan pada 9 Juli yang mengecam serangan itu tanpa menyebut siapa pelakunya.

Sementara itu, Korea Selatan berencana akan menghukum puluhan pejabat militer yang mengabaikan tugas berkaitan tenggelamnya korvet itu, menurut kantor berita Yonhap, Minggu.

Yonhap, merujuk pada sumber militer tak disebut namanya, mengatakan para penuntut militer dalam tahap akhir tugas mereka membawa para pejabat itu ke pengadilan perang.

Kementerian pertahanan menolak mengkonfirmasikan laporan itu. Badan pemeriksa negara Seoul bulan lalu menemukan 25 perwira militer, termasuk 13 jenderal, bersalah mengabaikan tugas.

Dalam kaitan itu, Lee Sang-Eui, kepala staf gabungan mengundurkan diri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau