Psikologi anak

Pola Menonton Televisi Anak Sangat Buruk

Kompas.com - 19/07/2010, 03:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Pola menonton televisi anak secara umum masih buruk karena konsumsi yang tinggi, yakni 4-5 jam sehari atau 30-35 jam seminggu. Bahkan, anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi dibandingkan dengan di sekolah.

Demikian dikemukakan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Nina Mutmainnah Armando dalam diskusi Bijak Menyikapi Media bagi Buah Hati di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, Sabtu (17/7). ”Padahal, sebenarnya anak hanya boleh menonton televisi paling lama dua jam per hari,” ujarnya.

Nina menambahkan, anak-anak menonton segala acara di televisi, termasuk tayangan untuk orang dewasa.

Psikolog anak, Rose Mini, mengatakan, anak sangat mudah terpengaruh media audio dan visual karena stimulus yang lebih intens dan lebih menarik bagi anak. Melalui media, pola pikir anak cenderung konkret, apa yang dilihat dianggap benar sehingga anak dikhawatirkan akan meniru mentah-mentah apa yang disajikan televisi.

Alangkah baiknya, menurut Rose, jika orangtua melakukan ”diet media” kepada anak. Bagi anak usia 0-2 tahun sebaiknya tidak menonton media apa pun, sedangkan anak usia lebih dari 2 tahun harus dibatasi menonton televisi.

Nina menambahkan, anak rentan karena belum kritis berpikir dan cenderung meniru. Anak akan menyerap tawaran dari media karena ia belum memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan bagi dirinya sendiri. ”Anak ’lari’ ke media karena tidak ada yang dilakukan,” ujarnya.

Bukan sahabat anak

Secara terpisah, psikolog anak, Seto Mulyadi, mengatakan, televisi sebenarnya bukanlah sahabat yang baik untuk anak-anak. Namun, karena tidak ada kegiatan lain yang diarahkan orangtua, anak dengan sangat gampang memilih televisi sebagai ”sahabat”. ”Sejak pagi buta hingga malam, anak-anak ditemani oleh tayangan-tayangan yang tidak mendidik, tetapi terkadang membuat anak-anak larut dan terlena,” kata Seto Mulyadi.

Ia menambahkan, televisi ternyata membawa pengaruh negatif yang jauh lebih besar daripada positifnya. ”Program infotainment dan reality show pun tak luput jadi tontonan anak-anak dan remaja,” ujarnya.

Seto, yang baru kembali dari Swedia mengikuti pertemuan yang membahas media dan anak-anak, menjelaskan, media tanpa sadar cenderung merusak anak-anak. Seksualitas, kekerasan, mistik, dan gosip yang bertebaran di televisi telah merusak anak dan tak mencerdaskan anak.

Menurut Seto, harus ada unsur idealisme dari pengelola media televisi dalam membuat program yang bisa membuat bangsa ini maju. Pertelevisian di Indonesia perlu merancang program-program yang mencerdaskan dan ramah kepada anak. (LUK/NAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau