Pencurian ikan

Perjanjian Bilateral Mutlak untuk Natuna

Kompas.com - 20/07/2010, 03:23 WIB

BATAM, KOMPAS - Perairan Natuna di Kepulauan Riau masih menjadi kawasan rawan pencurian ikan oleh kapal-kapal asing. Sepanjang belum ada perjanjian bilateral, persoalan yang merugikan bangsa Indonesia ini tidak akan pernah tuntas.

Demikian penekanan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Agus Suhartono dalam jumpa pers seusai Pertemuan Evaluasi Malacca Strait Sea Patrol (MSSP) Ke-6 di Kota Batam, Kepulauan Riau, Senin (19/7). Jumpa pers ini dihadiri oleh tujuh perwira tinggi angkatan laut setingkat KSAL, mewakili negara masing-masing.

Dalam konteks ini, empat negara merupakan peserta MSSP, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Tiga negara lainnya berstatus peninjau, yakni Filipina, Brunei, dan Vietnam.

Pencurian ikan di perairan Natuna, menurut Agus, antara lain dilakukan oleh nelayan-nelayan tradisional China. Ini disebabkan oleh kebiasaan nenek moyang mereka yang mencari ikan hingga ke perairan tersebut.

Persoalannya, setelah United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS/Hukum Konvensi Kelautan) diratifikasi tahun 1994, pencarian ikan oleh kapal asing di wilayah perairan Natuna, yang termasuk Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, itu merupakan pelanggaran.

Tahun ini saja, kata Agus, setidaknya sudah dua kapal nelayan tradisional China yang kedapatan mencuri ikan di perairan Natuna. Kapal-kapal tersebut selanjutnya dihalau ke luar dari wilayah Indonesia.

”Persoalan pencurian ikan di perairan Natuna harus diselesaikan melalui pertemuan bilateral antara Pemerintah China dan Indonesia. Selama perjanjian bilateral belum ada, pelanggaran tersebut akan terus terjadi. Saya harap ini bisa dibicarakan segera,” kata Agus.

Pemutakhiran SOP

Terkait evaluasi MSSP, hal yang ditekankan, antara lain, adalah pemutakhiran standard operation prosedure (SOP) patroli bersama di Selat Malaka. Ini mengingat telah banyak perkembangan teknologi serta penambahan agen-agen yang berperan serta dan berkepentingan sejak MSSP digelar pertama kali tahun 2005.

Di samping itu, MSSP juga akan diintegrasikan dengan kerja sama lain, seperti Eyes of The Sky, yang digalang angkatan udara empat negara.

Informasi intelijen tiap-tiap negara pun rencananya akan dijadikan bagian penting dalam MSSP ke depan. Kepala Angkatan Laut (Chief of Navy) Singapura Laksamana Chew Men Leong mengatakan, pembagian informasi yang lebih intens antarnegara peserta perlu direalisasikan. ”Hal ini tidak saja untuk menjaga keamanan, tetapi juga untuk mendukung kepentingan komersial berbagai pihak di laut,” ujarnya.

Hasil pertemuan ini, menurut Agus, akan dilaporkan kepada pimpinan militer masing-masing untuk kemudian dibawa ke pertemuan di level yang lebih tinggi dan dirumuskan apa saja yang nantinya akan diubah atau disempurnakan. (las/ong)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau