Penipuan dan pemerasan

KPK "Gadungan" di Bali Didatangi KPK

Kompas.com - 20/07/2010, 19:16 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Tertangkapnya enam orang anggota KPK gadungan oleh Polsek Denpasar Timur mendapat respons dari anggota KPK "asli" untuk ikut membantu mengusut kasus tersebut. Rencananya, anggota KPK "asli" akan datang ke Polsek Denpasar Timur pada minggu depan untuk menemui anggota KPK gadungan yang membawa nama institusi negara tersebut untuk menipu dan memeras sejumlah sekolah di Bali.

"Saya sudah koordinasi, kata mereka tidak ada perpanjangan tangan KPK," ujar Kepala Polsek Dentim AKP Ambariyadi Wijaya, Selasa (20/07/2010). "Tapi itu masih sebatas rencana, untuk realisasinya kita masih menunggu," jelasnya, saat ditanya kepastian kedatangan anggota KPK dari Jakarta.

Seperti diberitakan sebelumnya, enam orang yang mengaku dari Lembaga Pembantu Penyelenggara Pemerintahan (LP3) NKRI, organisasi kepanjangan tangan KPK, menipu sembilan sekolah di Denpasar. Caranya, mereka berpura-pura melakukan audit ke sekolah-sekolah yang menjadi korbannya.

Berdalih melakukan investigasi dan verifikasi dana APBN dan APBD yang diterima pihak sekolah mulai 2007 hingga 2010, anggota KPK gadungan ini memeras korbannya jika ditemukan adanya kejanggalan dari hasil bantuan tersebut, di antaranya yang berbentuk bangunan sekolah.

Setelah berbulan-bulan beraksi, polisi menciduk mereka di SMP Negeri 8 Denpasar seusai mendapat laporan masyarakat yang resah atas gerak-gerik mereka selama ini. Keenam tersangka, yaitu Dewa Gede Kartiyasa (39), Abdul Madjid (46), I Wayan Karya (47), Agus Suprapto (44), Nyoman Widyawan (48), dan Crist Purwanto (51), saat ini telah mendekam di sel tahanan Polsek Denpasar Timur.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau