JAKARTA, KOMPAS.com — Kasus penculikan kembali terjadi. Kali ini korbannya adalah HK (17), siswa kelas III SMA BPK Penabur Pluit. Empat anggota kawanan penculik, selain meminta tebusan Rp 50 juta, juga menggasak mobil Toyota Avanza milik orangtua korban.
Peristiwa penculikan siswa kelas III SMA BPK Penabur Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, itu terjadi pada Senin (19/7/2010) malam. Kala itu, HK, putra Sumanto (46), pengusaha ikan hias, dalam perjalanan pulang setelah mengikuti bimbingan belajar di kawasan Jembatan Dua, Tambora, Jakarta Barat. Dia dijemput sopir keluarganya, Yanto (40), mengendarai Toyota Avanza silver bernopol B 1840 UFH.
Yanto dan HK tidak langsung pulang ke rumah orangtuanya di Kompleks Arwana, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, tetapi mereka terlebih dulu mengantarkan rekan HK yang tinggal di Jalan Angke Jaya.
"Sepulang dari Angke Jaya, mobil kami tiba-tiba dipepet Toyota Avanza warna hitam," kata Yanto kepada wartawan di Mapolsektro Tambora, Selasa siang.
Dipepet secara tiba-tiba, Yanto menghentikan mobilnya. Setelah mobil berhenti, empat orang tak dikenal turun dari mobil. Mereka mengaku sebagai petugas dari Polda Metro Jaya.
Mendengar pengakuan empat orang tersebut, Yanto bertanya-tanya apa salah dirinya sehingga mobilnya dihentikan. Namun, kawanan penjahat itu menjawab pertanyaan Yanto dengan menodongkan senjata api dan senjata tajam. Hal itu membuat Yanto dan HK tidak berkutik.
Kawanan penjahat itu kemudian mengambil alih kendali mobil. Tangan Yanto dan HK diikat dan mereka diminta duduk di jok belakang. Dua orang menunggu mereka. "Kami diancam akan ditembak jika melawan," ujar Yanto.
Nomor telepon
Setelah menguasai Yanto dan HK, mobil bergerak ke arah kawasan Jakarta Pusat melalui Jalan Jembatan Lima dan Jalan Hayam Wuruk. Di perjalanan, kawanan penjahat itu meminta nomor telepon orangtua HK. HK yang tidak berdaya lalu memberikan nomor telepon orangtuanya.
"Kawanan penjahat itu kepada orangtua HK, Sumanto, minta tebusan Rp 50 juta," kata Yanto.
Sempat terjadi tawar-menawar antara Sumanto dan kawanan penculik. Kepada penculik, Sumanto mengatakan hanya bisa memberikan uang Rp 6 juta. Tawaran itu kemudian disetujui kawanan penjahat.
Sambil mengirimkan uang Rp 6 juta, Sumanto melaporkan kejadian itu ke Mapolsektro Tambora. Setelah uang ditransfer, ikatan di tubuh HK dan Yanto dilepaskan. Mereka lalu diturunkan di Jalan Krekot, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Sebagai ganti uang tebusan yang kurang, kawanan penculik membawa kabur mobil Avanza milik Sumanto.
Terbebas dari tangan para penjahat, HK dan Yanto langsung menyetop taksi untuk kembali ke rumah. Sekitar pukul 00.00 mereka tiba di rumah, disambut keluarganya dan beberapa petugas polisi. Selasa pagi, HK dan Yanto diminta datang ke Mapolsektro Tambora untuk menceritakan peristiwa yang mereka alami.
Kanit Reskrim Polsektro Tambora Iptu R Manurung membenarkan peristiwa itu. Dia mengatakan, pihaknya masih memburu kawanan penculik yang jumlahnya empat orang tersebut.
"Dari pemeriksaan sementara, motif penculikan bukan persaingan bisnis atau urusan utang-piutang. Kemungkinan besar ini murni penculikan dan perampokan," ujar Manurung.
Manurung menambahkan, sejak menerima laporan dari orangtua HK, pihaknya langsung berupaya mencari kawanan penjahat. Namun, karena di mobil, mereka dengan leluasa bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Polisi-warga
Tindakan penculikan dan perampokan yang dialami HK dinilai sebagai akibat kurang komunikatifnya antara polisi dan masyarakat. Tindakan berpura-pura sebagai anggota polisi yang dilakukan kawanan penjahat sebelum menculik HK dan Yanto dinilai Reza Indragiri Amril, ahli Psikolog Forensik, sebagai bukti tidak ramahnya polisi dengan masyarakat.
"Kepura-puraan para penjahat sebagai polisi secara tidak langsung menunjukkan tidak adanya relasi yang positif antara masyarakat dan polisi. Selama ini, di mata sebagian masyarakat, polisi adalah sosok yang memiliki otoritas, berkuasa, tidak hangat, dan tidak santun. Jadi, ketika ada kawanan penjahat yang mengaku sebagai polisi, maka korbannya tidak memiliki pilihan lain selain menurut saja," ucap Reza.
Menurut Reza, banyak bukti di lapangan, orang tidak berdaya ketika menghadapi polisi. "Seperti ketika ditilang. Apakah semua polisi mau memberitahukan apa kesalahan pengemudi yang ditilang?" tanya Reza.
Seandainya polisi dan masyarakat memiliki relasi yang baik, kata Reza, para korban kejahatan yang pelakunya mengaku sebagai polisi akan memiliki keberanian bertanya lebih jauh.
"Memiliki sifat kritis untuk mengecek ulang. Berani menanyakan identitas orang tersebut dan menanyakan kartu tanda pengenal polisi. Tapi, karena tidak adanya relasi yang baik, tidak ada pilihan bagi korban kejahatan dan hanya diam saja," papar Reza.
Hubungan yang baik antara polisi dan masyarakat, lanjut Reza, akan membuat para penjahat yang mengaku-ngaku sebagai polisi tidak akan begitu saja menguasai korbannya. Pelaku kejahatan yang beraksi di jalanan dengan mengaku sebagai polisi adalah salah satu cara untuk menguasai korbannya dari segi sumber daya.
Ada empat tahapan yang perlu dipikirkan penjahat ketika akan melakukan kejahatan, yakni TIRR (target, insentif, resiko, resources). "Dalam kasus ini, korban adalah pelajar beserta sopirnya yang mudah dikuasai. Korban dinilai akan mampu memberikan insentif yang banyak bagi para pelaku. Setelah dua unsur ini, pelaku akan memikirkan risiko upayanya. Namun, karena berpura-pura menjadi polisi, mereka bisa menguasai korbannya dan meminimalkan risiko. Sementara dari segi sumber daya, kawanan penjahat ini melengkapi diri dengan senjata," tutur Reza.
Dalam kasus yang terjadi atas HK, kata Reza, keempat unsur tersebut terpenuhi. "Teorinya, semakin banyak unsur yang terpenuhi, akan semakin berani para penjahat melakukan aksi kejahatan," ungkapnya.
Di Semarang hilang
Secara terpisah, di Semarang, Maria Sinaga (19), pelajar SMA yang baru lulus, dilaporkan hilang dari rumahnya sejak Sabtu (17/7/2010). Khawatir menjadi korban penculikan, ibunya M Tampubolon (68) melaporkan kejadian tersebut ke Polrestabes Semarang, Selasa (20/7/2010).
Warga Bongsari RT 04 RW 08, Kelurahan Bongsari, Semarang Barat, ini mengatakan, dugaan anaknya menjadi korban penculikan menguat kerena hingga Selasa pagi putrinya tidak pernah menjawab saat dihubungi melalui ponselnya. Kalaupun ada yang menjawab, suara yang terdengar seorang laki-laki bernada berat.
Kepada petugas, Tampubolon, Sabtu, menuturkan, anaknya pamit mengurus ijazah di Yayasan BKBM yang berada di kawasan Barito, Semarang. Saat pergi, Maria mengendarai sepeda motor TVS No H-5914AW. "Dia berjanji segera pulang jika urusannya sudah selesai," katanya. (tos/Ant)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang