Ledakan elpiji

Mahasiswa Advokasi Korban Ledakan Elpiji

Kompas.com - 21/07/2010, 12:54 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia (SI) berencana membuat posko pendampingan dan advokasi untuk para korban ledakan elpiji khususnya 3 kilogram. Hal ini disampaikan Koordinator BEM seluruh Indonesia, Fiqi Ahmad saat berunjuk rasa di depan monumen perjuangan rakyat Bali Bajra Sandhi, Renon, Denpasar, Rabu (21/7/2010).

“Kita akan mengadvokasi teman-teman yang menjadi korban. Kita punya perwakilan di setiap daerah,” ujar mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta ini.

“Selanjutnya kita juga akan membawa aspirasi mereka kepada Presiden SBY,” tambahnya.

BEM seluruh Indonesia menganggap kebijakan pemerintah mengonversi minyak tanah ke elpiji justru menjadi bumerang karena kurangnya pengawasan terhadap pengadaan tabung elpiji. “Kalau kualitas barangnya seperti itu malah membunuh masyarakat, ini ada proyek pengadaan tabung yang cukup banyak tapi pengawasan terhadap produknya lemah,” katanya.

Mahasiswa berharap pemerintah tidak lepas tangan terhadap para korban ledakan elpiji dan meningkatkan pengawasan peredaran tabung elpiji khususnya 3 kilogram agar masyarakat tidak lagi menerima tabung tidak layak edar yang membahayakan nyawa mereka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau