Seks Bebas dan AIDS di Afsel

Kompas.com - 22/07/2010, 13:45 WIB

HIV/AIDS sudah semakin menjadi masalah serius di Afrika Selatan (Afsel). Penyakit yang menyerang kekebalan tubuh itu semakin luas. Afsel kini malah menjadi negara dengan pengidap HIV/AIDS paling tinggi.

Pada 2007, UNAIDS mencatat ada 5.700.000 penderita HIV/AIDS di Afsel. Ini sudah menjadi keprihatinan besar Afsel juga dunia. Sehingga, pemerintah membuat kampanye pencegahan dan penyadaran atas bahayanya AIDS lewat lembaga Khomanani. Beberapa LSM juga mulai turun tangan, seperti LoveLife. Ada juga dua acara televisi yang berkempanye memerangi AIDS seperti Soul Buddyz dan Soul City.

AIDS di Afsel sebenarnya baru ditemukan terdapat pada dua pasien tahun 1983. Saat itu, AIDS masih langka di negeri itu. Namun, pada era 1990-an, AIDS seperti menjamur di negeri itu.

Setelah hapusnya sistem Apartheid yang membeda-bedakan ras itu, kehidupan menjadi lebih bebas. Namun, kebebasan seks juga semakin meluas.

Di Afsel, setiap individu yang sudah mencapai umur 18 tahun bebas menentukan pilihannya. Mereka juga sudah dianggap pribadi yang mandiri, maka bebas melakukan apa saja sesuai dengan keputusan dan pertimbangannya. Bahkan, soal seks pun mereka sudah bebas melakukannya. Seks di bawah 18 tahun akan dikenai hukuman.

Selama Piala Dunia 2010, ada seorang wartawan asing yang dengan bangga cerita kepada wartawan lain. Menurutnya, sangat mudah melakukan seks di Afsel. Bahkan, katanya, dia sudah tidur dengan banyak voluntir atas dasar sama suka dan sekadar senang-senang.

Tak hanya itu, setiap lulusan highschool (setara SMA), biasanya ada pesta para siswa yang lulus. Pesta ini sering diwarnai "pesta" pelepasan keperawanan atau keperjakaan. Mereka merasa sudah berumur 18 tahun dan bebas melakukan apa pun sesuai kehendaknya.

Bahkan, televisi Afsel, SABC, pernah menayangkan sinetron yang menggambarkan anak-anak yang baru lulus dari highschool. Mereka kemudian melakukan pesta. Salah satu bagian dari cerita itu, beberapa anak kemudian mengajak pasangannya dan melakukan hubungan seks.

Wanita asal Johannesburg, Lesogo, membenarkan ada tradisi pesta para lulusan highschool. Dia juga mengakui, biasanya ada saja pasangan yang kemudian melakukan hubungan seks.

"Saya juga melakukannya. Sebab, saat lulus saya sudah berumur 18 tahun dan bebas melakukan apa saja, karena sudah dianggap bertanggung jawab," ujar Lesogo.

Karyawan sebuah perusahaan mobil terkenal itu berumur 24 tahun saat diwawancara KOMPAS.com di FIFA Fan Fest Inner Free Park, Johannesburg, pada Piala Dunia 2010 lalu. Dia mengaku tak punya pacar, tapi sesekali melakukan hubungan seks dengan kawannya atas dasar saling mencari kepuasan.

"Selama sudah 18 tahun, kami bebas melakukan seks asal bertanggung jawab," jelasnya tanpa canggung.

Kebebasan seks itu merupakan salah satu penyebab cepatnya penyebaran HIV/AIDS. Jumlahnya penderita AIDS semakin banyak, hingga akhirnya mencapai 5,7 juta.

Maka, pemerintah Afsel kini terus berkampanye agar masyarakat hati-hati dan ikut aktif memerangi AIDS. Pemerintah juga menganjurkan penggunaan kondom sebagai salah satu upaya menghindari AIDS. Namun, kebebasan seks tak dilarang.

Dalam kaitannya dengan seks ini, di Afsel sempat muncul isu aneh-aneh. Isu itu lebih bermotivasi mencari pembenaran berhubungan seks secara bebas. Katanya, AIDS bisa hilang jika berhubungan dengan balita. Ada pula yang mengatakan, AIDS bisa hilang dengan cara mandi shower.

Beberapa isu itu sempat meresahkan masyarakat. Sampai-sampai, akhirnya tokoh besar Nelson Mandela turun tangan. Dia berbicara kepada semua warga dan menjelaskan AIDS secara proporsional dan meminta masyarakat tak terpengaruh isu yang menyesatkan.

HIV/AIDS di Afsel memang sangat memprihatinkan. Bahkan, pengidapnya tak hanya orang dewasa. Kini, diperkirakan ada 280.000 anak di bawah 15 tahun yang terinfeksi virus HIV/AIDS.

Kematian akibat AIDS pun semakin besar di negeri ini. Pada 2007, sebanyak 350.000 orang meninggal akibat AIDS. Ini peningkatan besar jika dibandingkan tahun 2001. Di tahun itu hanya ada 180.000 orang yang meninggal akibat AIDS.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau