9 Ide Mengisi Waktu Liburan dengan Hemat

Kompas.com - 22/07/2010, 16:15 WIB

KOMPAS.com - Anda mungkin sudah merencanakan core leave, atau cuti besar, tahun ini. Sialnya, kesibukan kerja justru membuat Anda tak sempat merencanakan, akan diapakan liburan itu nanti. Atau, karena kepepet, Anda memilih berlibur ke suatu tempat yang sudah sering Anda kunjungi. Akhirnya, karena sudah bosan mengunjungi obyek-obyek wisatanya, malas jalan kaki (mau liburan kok malah capek?), atau persediaan uang menipis, Anda hanya bermalas-malasan di hotel saja.

Jika Anda berada dalam situasi ingin jalan-jalan tapi enggak punya duit seperti ini, ada 9 ide untuk mengisi waktu, seperti dituangkan Trinity dalam bukunya, The Naked Traveler 2.

1. Naik kendaraan umum, seperti bus atau trem, dan ikuti trayeknya sampai habis, lalu balik lagi. Bus umum adalah mode transportasi termurah. Saat masih ingin jalan-jalan melihat kota, cara begini ditanggung menyenangkan, tidak nyasar, dan tetap hemat. Anda akan bisa menemukan tempat-tempat nonturistik, mengetahui kebiasaan orang-orang lokal, melihat perumahannya, bahkan menertawakan iklan billboard yang lucu-lucu.

2. Pergi ke taman umum atau alun-alun, duduk-duduk sambil memperhatikan orang lalu lalang. Inilah kesempatan bagi Anda untuk jadi "fashion police", memperhatikan gaya berbusana penduduk lokal. Selain itu juga mengamati bagaimana orang bertransaksi, mendengar bahasa asing, dan menertawakan kesialan orang. Menurut Trinity, dari aktivitas ini ia berkesimpulan, di negara barat, pria blue collar lebih banyak yang ganteng daripada pria white collar. Mungkin karena pria berjas lebih sres dan kurang menikmati hidup, sehingga mukanya kusut.

3. Tidur. Kenapa harus merasa bersalah kalau tidur lama dan bangun siang? Traveling itu melelahkan karena membuat Anda harus banyak berjalan kaki. Dengan demikian, tidur bisa jadi sarana me-recharge diri.

4. Berenang. Kalau sedang kehabisan ide, atau sedang kepanasan, berenang saja di kolam renang hotel. Kalau tidak ada, berenang lah di pantai terdekat atau di kolam renang publik. Jika Anda berani, diam-diam berenang di hotel berbintang, lalu belagak bego ketika diminta bayar.

5. Ke supermarket atau pasar tradisional. Bukan untuk berbelanja, melainkan untuk memperhatikan produk-produk lokal yang aneh-aneh, dan membandingkan harganya sehingga tahu taraf hidup penduduk di suatu tempat. Cobalah jajanan pasar atau perhatikan jenis makanan setempat. Kalau untung, Anda bisa dapat barang loak bermerek yang murah, lho.

6. Pergi ke resepsionis, ajak kenalan petugasnya, lalu ngobrol-ngobrol. Mereka bisa jadi sumber informasi arah jalan dan tempat makan termurah tapi enak. Karena sering bergaul dengan penduduk lokal, Trinity sering diajak main ke tempat gaul orang lokal, bahkan mendapat makanan gratis. Resepsionis juga sumber utama gosip. Anda tak ingin ketinggalan gosip-gosip setempat, kan?

7. Main internet. Saat tidak bekerja, Anda pasti akan tetap merindukan apa yang terjadi di kota asal Anda, atau di Indonesia. Enggak asyik kan, kalau ada demo ini-itu, ada kebijakan ini-itu, atau harga BBM turun, dan Anda jadi orang terakhir yang tahu? Hanya saja kalau ke warnet di negara yang tidak berbahasa Inggris, keyboard komputer juga berbahasa atau berkarakter asing. Belum lagi Yahoo! atau Google sudah diset dalam bahasa lokal.

8. Cuci baju. Kalau travel light, bawaan Anda tentu minim. Nah, sediakan waktu khusus untuk mencuci baju dan menjemurnya.

9. Baca buku, menulis, atau menggambar. Sebenarnya kegiatan ini bisa dilakukan kapan saja, tetapi jika tidak ada pekerjaan, asyik juga kan, leyeh-leyeh sambil membaca? Di hostel biasanya ada common room berisi perpustakaan mini atau koleksi video. Bisa juga ke taman hostel di luar, atau di rooftop.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau