Cagar budaya

Pembangunan Jalan Rusak Candi Muaro Jambi

Kompas.com - 23/07/2010, 04:05 WIB

Jambi, Kompas - Pembangunan jalan kabupaten di kompleks Candi Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, dihentikan sementara, Kamis (22/7). Pembangunan itu diketahui merusak menappo atau tumpukan batu berstruktur candi di kompleks tersebut.

Hari Kamis Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi Didy Wurjanto bertemu dengan sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi dan Komandan Distrik Militer 0415 Batanghari Letkol Aufit Chaniago. Setelah membahas persoalan ini, semua pihak bersepakat menghentikan pembangunan jalan.

Jalan kabupaten selebar 6 meter itu dibangun hampir 1 kilometer dari Candi Astano ke kompleks utama situs tersebut. Jalan tersebut merupakan proyek Pemkab Muaro Jambi yang dilaksanakan oleh personel TNI melalui proyek Karya Bhakti TNI.

Didy Wurjanto mengatakan, pihaknya baru mengetahui bahwa pembangunan jalan merusak menappo setelah ada laporan dari masyarakat. Satu menappo tergerus oleh alat berat. ”Kami langsung mengecek ke lokasi dan ternyata benar,” kata Didy.

Pembangunan jalan terganjal Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 mengenai Benda Cagar Budaya. ”Pembangunan yang melalui situs budaya harus mendapat rekomendasi dari Balai Pelestarian Peninggalan Arkeologi setempat,” katanya.

Pembangunan jalan, kata Didy, sangat merisaukan. Penyebabnya, situs Muaro Jambi merupakan satu dari enam obyek yang diusulkan pemerintah untuk masuk dalam warisan dunia oleh UNESCO. ”Jika dunia tahu bahwa ada menappo yang rusak karena pembangunan jalan, nilai situs Candi Muaro Jambi bisa semakin kecil,” kata Didy.

Kompleks Candi Muaro Jambi terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Jambi. Di dalamnya terdapat lebih dari 80 reruntuhan candi dan sisa-sisa permukiman kuno. Oleh masyarakat setempat, sisa-sisa reruntuhan candi itu disebut menappo.

Banyak menappo yang sudah teridentifikasi sebagai reruntuhan candi berada di tanah milik masyarakat yang digunakan sebagai kebun sayur-mayur ataupun kebun buah duku dan durian. Namun, warga berupaya agar aktivitas mereka di lahan yang terdapat menappo tidak merusak situs sejarah itu. (ITA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau