Tahapan Edukasi Seks di Keluarga

Kompas.com - 23/07/2010, 07:55 WIB

KOMPAS.com - Sejak usia berapa anak Anda mulai bertanya tentang bagian tubuhnya? Apakah anak Anda sudah menyatakan ketertarikannya dengan lawan jenis pada usianya yang masih sangat belia?

Rasa ingin tahu anak tak bisa dijawab seadanya oleh orangtuanya. Karena pada masa inilah, anak sedang mengeksplorasi dirinya. Orangtua seharusnya menjadi tempat paling aman untuk anak, yang mampu memberikan penjelasan yang tepat. Sayangnya, banyak orangtua yang kesulitan memberikan respons yang baik, apalagi menyangkut pertanyaan seputar seksualitas.

Sani B. Hermawan MPsi, psikolog, mengatakan orangtua perlu membekali diri dan menjadi lebih cerdas. Karena pertanyaan anak masa kini semakin cerdas, meski usianya masih sangat belia. Memberikan pemahaman seputar masalah seksual sejak dini, bisa membuat komunikasi orangtua dan anak lebih fleksibel di kemudian hari.

"Pendidikan seks dibutuhkan anak usia dini, bahkan hingga seseorang yang telah menikah. Pendidikan seks juga masih diperlukan oleh pasangan menikah," papar Sani dalam media workshop di Annex Building, Wisma Nusantara Complex, Jakarta, Kamis (22/7/2010) lalu.

Lantas pemahaman apa saja yang seharusnya dimiliki orangtua dan disampaikan kepada anak dengan bahasa yang tepat? Bagaimana tahapannya?

Periode dini, saatnya mengenalkan bagian tubuh
Anak usia dini sudah bisa diajak bicara mengenai seks. Tolok ukurnya, saat anak sudah mulai bertanya tentang seks, dan juga saat komunikasi dua arah dengan orangtua sudah terbangun. Rata-rata anak usia 2 - 3 tahun sudah mulai mampu berkomunikasi dua arah dengan orangtuanya.

"Ajarkan anak dengan bahasa ilmiah, kenalkan istilah penis dan vagina kepada anak, bukan dengan menyebutnya dengan istilah lain, seperti burung misalnya," tegas Sani.

Pada usia ini, anak juga mulai bisa dikenalkan dengan fungsi tubuh. Vagina dan penis sebagai saluran urin, lubang dubur untuk buang air besar. Pendidikan seks usia dini bisa diawali dari pengetahuan dasar seperti ini.

Periode awal sekolah, saatnya penyadaran dan membuat anak bangga dengan tubuhnya
"Anak sekolah dasar sudah mulai keputihan, ini karena celana dalam kotor atau cara membersihkan area kelamin yang salah. Anak sudah harus diajarkan cara membersihkan tubuhnya termasuk area kelamin dengan baik," jelas Sani.

Penyadaran yang diawali dengan kebersihan organ tubuh menjadi titik mulanya. Dengan begitu, anak bisa belajar tanggung jawab atas dirinya dan mulai memahami pentingnya merawat tubuh dan kelamin.

Pada usia ini juga anak mulai mengeksplorasi daerah kelaminnya. Apalagi dengan berbagai informasi yang semakin terbuka dan diterima oleh anak-anak.

"Ada anak yang bertanya, kenapa saat memeluk bantal-guling dan menjepit guling di area kelamin menimbulkan rasa enak. Atau anak bertanya, mengapa penisnya berdiri pada pagi hari. Orangtua perlu mendapatkan jawaban yang tepat dan memberikan penyadaran," kata Sani.

Ajarkan kepada anak bahwa area kelamin sensitif sehingga perlu dijaga, kata Sani, menambahkan dengan menjepit bantal-guling akan melukai area kelamin. Anak juga perlu diajarkan tentang ukuran penis, yang memang berbeda bagi setiap lelaki. Dengan memahami ini, anak memahami tubuhnya. Jikapun teman sekolahnya, misalnya, membandingkan ukuran penis, anak sudah terbekali dengan pengetahuan yang tepat dari orangtuanya. Dengan begitu, anak merasa bangga dengan apa yang dimilikinya.
   
Periode remaja, pahami aspek psikologis
Pada masa inilah, anak remaja mengalami pubertas. Pada anak lelaki ditandai dengan suaranya yang membesar dan mimpi basah. Sedangkan perempuan mengawali pubertas dengan menstruasi.

Kenalkan anak dengan aspek psikologis yang akan dialaminya memasuki masa ini. Perempuan menjadi lebih sensitif dan nafsu makan bertambah karena mens, misalnya.

"Jangan biarkan anak kebingungan, dan menjalani masa ini tanpa pengetahuan yang jelas. Orangtua perlu lebih aktif dan berinisiatif membekali anak. Namun jangan juga terlalu mengumbar persoalan psikologis ini," jelas Sani, menambahkan fokusnya adalah membekali anak untuk mengendalikan emosinya pada tahapan ini.

Orangtua perlu membekali anak remajanya dengan pendidikan seks, agar anak bisa menerima dirinya, dengan berbagai perubahan fisik dan psikologis. Dengan begitu, anak bisa percaya diri dan mampu mengendalikan keinginan seks yang sudah mulai muncul, apalagi dengan kondisi kekinian di mana banyak remaja sudah berhubungan seksual, meski dengan cara aman sekalipun, tambah Sani.

Periode dewasa, kepuasan seksual penting bagi pasangan
Seks yang tepat dan berkualitas perlu dikenali dan dipahami pasangan. Baik yang akan segera menikah maupun yang sudah menikah puluhan tahun.

Bagi perempuan yang sudah menikah, berusia di atas 40 tahun misalnya, seks tak lagi menarik. Sedangkan suami pada usia ini, berada dalam masa puncak terkait seksualitasnya. Hal ini bisa disiasati agar hubungan seks tetap bisa dinikmati pasutri dan berkualitas. Pemahaman lebih lanjut mengenai seks bisa menjawab persoalan.

"Seks bisa menjadi cara untuk melepas ketegangan," imbuh Sani.

Jika sudah terlambat menjalani tahapan awal, dan saat ini anak Anda sudah remaja misalnya, tak jadi masalah bila Anda langsung membuka komunikasi dan memberikan pemahaman seks sesuai tahapan usia anak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau