Cuaca Buruk, Penerbangan Dihentikan

Kompas.com - 23/07/2010, 08:41 WIB

TIMIKA, KOMPAS.com - Penerbangan perintis ke Alama, Distrik Jila dari Timika untuk sementara dihentikan selama dua minggu ke depan karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.

Kepala Bidang Perhubungan Udara pada Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mimika, John Rettob di Timika, Jumat (23/7/2010), mengatakan dari hasil monitor petugas awan di wilayah Alama sangat rendah disertai angin yang kencang sehingga dapat membahayakan keselamatan penerbangan.

"Dari hasil monitor dan histori akhirnya diputuskan untuk menutup (menghentikan) sementara penerbangan perintis ke Alama dalam dua minggu ke depan," kata Rettob.

Penerbangan perintis ke wilayah Alama dari Timika secara reguler dilayani dua kali seminggu dengan pesawat dari perusahaan Susi Air berpenumpang tujuh orang. Namun karena permintaan cukup tinggi, penerbangan ke wilayah yang berada di kawasan pegunungan itu biasanya dilakukan empat hingga lima kali dalam seminggu.

Rettob mengatakan, selama periode Juli hingga Agustus kondisi cuaca di Papua cukup ekstrim untuk penerbangan yang menggunakan sistem peraturan visual karena awan yang sangat rendah.

Akibatnya, kata dia, banyak maskapai penerbangan perintis yang membatalkan penerbangan sebagaimana pada Selasa (20/7/2010) ketika  hampir seluruh pesawat perintis membatalkan penerbangan karena kondisi cuaca yang buruk. "Pada Selasa (20/7/2010) pesawat-pesawat berbadan kecil dengan rute ke pedalaman hanya melayani sekali penerbangan di bawah pukul 08.00. Di atas jam tersebut sampai sore tidak ada yang terbang demi keselamatan," katanya.

Pembatalan penerbangan pesawat perintis tersebut mengakibatkan banyak penumpang yang mengalami penundaan keberangkatan. Namun dalam dua hari terakhir kondisi penerbangan perintis ke pedalaman mulai normal kembali.

Kondisi tersebut tidak berpengaruh terhadap penerbangan yang menggunakan pesawat berbadan lebar. Meski begitu, pesawat Merpati jenis Boeing 737-400 tujuan Makassar-Timika pada Senin (19/7/2010) sempat tidak bisa mendarat di Timika dan dialihkan ke Biak karena awan tebal menutup Bandara Mozes Kilangin Timika.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau