Chavez Putuskan Hubungan dengan Kolombia

Kompas.com - 23/07/2010, 10:07 WIB

CARACAS, KOMPAS.com - Presiden Venezuela, Hugo Chavez, Kamis (22/7), memutuskan hubungan dengan Kolombia dalam peningkatan sengketa antara dua negara bertetangga di Andea tersebut terkait tuduh Bogota bahwa pemberontak sayap-kiri Kolombia berlindung di Venezuela.

Chavez, yang sosialis dan memandang Kolombia yang didukung AS sebagai ancaman, mengumumkan, dia memutuskan hubungan setelah pemerintah Presiden Kolombia, Alvaro Uribe, mengajukan bukti yang katanya memperlihatkan 1.500 gerilyawan Kolombia bersembunyi di Venezuela. Tindakan tersebut meningkatkan ketegangan di wilayah Andean, tempat bentrokan ideologi dan kehadiran besar militer bersenjata, kelompok gerilyawan dan penyelundup narkotika membuat campuran berbahaya yang rentan.

Namun bentrokan militer dalam waktu dekat antara Venezuela, produsen terbesar minyak di Amerika Selatan dan pemasok ke AS, dan Kolombia, sekutu utama militer AS, tampaknya takkan terjadi. Chavez menyebut tuduhan presiden Kolombia itu, yang disampaikan kepada Organisasi Negara Amerika (OAS), sebagai agresi yang diilhami AS dan mengatakan dia akan memerintahkan siaga maksimal di sepanjang perbatasan negerinya dengan Kolombia.

"Kami tak memiliki pilihan lain kecuali, demi kedaulatan, sepenuhnya memutuskan hubungan dengan negara saudara kami Kolombia," kata Chavez, saat menjamu idola sepak bola Argentina, Diego Maradona.

Menteri Luar Negeri Venezuela, Nicolas Maduro, mengatakan dia telah memerintahkan penutupan kedutaan besar Venezuela di Bogota dan memberi misi Kolombia waktu 72 jam untuk pergi. Ia mengatakan Caracas sedang mempertimbangkan tindakan, seperti penghentian penerbangan.

Chavez, yang memandang dirinya anti-AS dan anti-kapitalis, menghadapi tantangan oposisi dalam pemilihan anggota dewan legislatif pada 26 September mendatang dan telah meningkatkan retorika terhadap orang yang dianggap sebagai musuhnya. Banyak pengeritik mengatakan ia sedang berusaha mengalihkan perhatian dari ekonomi ke musuh lain.

Duta Besar OAS di Kolombia Luis Alfonso Hoyos menyebut pemutusan hubungan Venezuela sebagai kesalahan bersejarah. "Venezuela mestinya memutuskan hubungan dengan gerombolan yang menculik dan mebunuh dan menyelundupkan narkotika, dan bukan dengan pemerintah yang memiliki undang-undang dasar yang sah," katanya kepada wartawan.

Chavez menimpakan kesalahan mengenai percekcokan yang terjadi pada Presiden Kolombia Alvaro Uribe, yang dia sebut "gila". Chavez menuduh Amerika Serikat menghasut Uribe agar berbenturan dengan Venezuela.

Namun ia menambahkan ia berharap presiden yang terpilih di Kolombia, Juan Manuel Santos, yang akan memangku jabatan pada 7 Agustus, akan membantu membawa hubungan kembali ke keadaan normal. Presiden terpilih Santos, yang berada di Mexico untuk bertemu dengan Presiden Felipe Calderon, mengatakan, "Sumbangan terbaik yang dapat kami buat ialah tidak mengeluarkan pengumuman apa pun. Presiden Uribe adalah presiden republik sampai 7 Agustus," kata Santos kepada wartawan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau