Korupsi sekolah

Kenapa Komite Sekolah Tak Berdaya?

Kompas.com - 23/07/2010, 11:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menurut seorang mantan orang tua murid, kasus dugaan korupsi SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi, Jakarta Timur, terjadi karena komite sekolah lebih condong memihak sekolah. Komite sekolah cenderung disetir pihak sekolah, sehingga hanya menjadi "tangan" sekolah untuk menyampaikan semua kebijakan ke orang tua murid tanpa mengkritisinya.

"Program-program yang ada hanya copy paste saja dari tahun ke tahun. Tidak ada inovasi dan kritis. Makanya, orang tua yang kritis jarang dipilih pihak sekolah untuk duduk di komite. Mereka alergi," ejek Eva Rais, mantan orang tua murid SDN RSBI Rawamangun 12 Pagi di Jakarta, Jumat (23/7/2010).

Eva mengakui, sebetulnya banyak orang tua murid yang berniat duduk di komite sekolah. Hanya lantaran kritis, mereka akhirnya tidak dipilih sekolah. Sekolah hanya meminta perwakilan kelas atau wali orang tua kelas (WOK) untuk ikut diseleksi dan kemudian dikerucutkan jumlahnya, baru kemudian dipilih sebagai komite sekolah.

"Harusnya rekrutmen terbuka. Siapapun boleh ikut asalkan punya program dan visioner," ujar Eva.

Seperti diberitakan sebelumnya di Kompas.com, Jumat (23/7/2010), Ketua Aliansi Orang Tua Murid Peduli Pendidikan, Jumono, juga mengungkapkan, banyak anggota komite sekolah yang tidak ditunjuk oleh orangtua murid, tetapi oleh kepala sekolah. Inilah yang kerap kali membuat komite sekolah tidak berdaya.

Padahal, kata dia, jika dilihat dari Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002, posisi komite sekolah mandiri dan tidak berada di bawah koordinasi kepala sekolah, tetapi mitra kepala sekolah.

"Menjadi anggota komite itu berat karena harus tahu tentang tata kelola keuangan dan mekanisme pembuatan anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Selain itu juga harus siap mental," kata Jumono.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau