Hari anak nasional 2010

Napi Anak: Kami Ingin Sekolah Lagi, Pak!

Kompas.com - 23/07/2010, 15:44 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Dinginnya lantai di balik jeruji besi menjadi alas tidur mereka sehari-hari. Belenggu tembok yang menjulang juga selalu membatasi aktivitas keseharian mereka. Begitulah nasib narapidana anak-anak yang kini mendekam di Blok K Lembaga Pemasyarakatan kelas II A Kerobokan, Denpasar.

Lantaran tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah, mereka akhirnya menjadi “liar” dan salah pergaulan. “Enggak lanjutin karena enggak punya uang,” ucap Endro Cahyono, salah seorang napi anak-anak yang terpaksa putus sekolah karena terbentur biaya.

Karena tidak memiliki pekerjaan yang baik, Endro pun nekat mencuri sebuah mesin air yang akhirnya mengantar remaja 16 tahun ini mendekam di Lapas Kerobokan.

Remaja asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu hanya mampu menikmati bangku pendidikan hingga lulus sekolah dasar. Padahal, di dalam benaknya, ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti anak-anak seusianya. “Kalau ada yang biayain, saya mau sekolah,” harapnya.

Tidak berbeda jauh nasibnya dengan Endro, Mega Jayantini, satu-satunya napi anak perempuan di Lapas Kerobokan, juga harus putus sekolah gara-gara masalah biaya.

“Setelah lulus SMP, saya enggak sekolah lagi, soalnya tidak ada biaya. Bapak saya sudah meninggal, terus Ibu saya nikah lagi dan sekarang enggak peduli sama saya,” kata gadis berusia 16 tahun ini.

Lantaran salah pergaulan, Mega terseret kasus pencurian sepeda motor, yang mengakibatkan gadis asal Singaraja ini harus mendekam selama 8 bulan di Lapas Kerobokan.

“Saya kapok, Mas, dan kalau ada yang mau biayain setelah keluar, saya mau sekolah lagi,” harapnya.

Entah siapa yang harus bertanggung jawab dengan nasib anak-anak bangsa seperti mereka. Namun, jika pemerintah tidak peduli dengan keberadaan mereka, maka apa yang akan terjadi pada generasi muda kita di masa mendatang?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau