Kaus Manchester United Jadi Masalah

Kompas.com - 23/07/2010, 16:22 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com — Ulama Malaysia tidak mempunyai rencana untuk mengeluarkan fatwa melarang jersey klub Inggris, Manchester United, di negara itu karena mencantumkan lambang iblis.

Harussani Zakaria, ulama dari negara bagian Perak, mengatakan, logo tim sepak bola  yang bermaterikan iblis, salib, dan tengkorak memang mempromosikan nilai-nilai yang salah dan tdiak dapat digunakan oleh kaum Muslimin, tetapi tidak berarti ia menginginkan hal itu dilarang.

"Kami hanya menganjurkan orang-orang tidak mengenakannya," katanya, Jumat (23/7/2010). "Setan adalah musuh kita bersama. Nilai-nilai itu keliru, setan itu selalu buruk dan salah."

Hal ini diungkapkan oleh Zakaria menyusul berita yang menyebutkan adanya larangan mengenakan seragam Manchester United ataupun jersey timnas negara-negara tertentu buat kaum Muslimin di Malaysia. Logo MU memang bergambarkan setan yang memegang trisula dan klub ini sering dijuluki "Setan Merah".

Zakaria mengatakan, ulama lainnya bisa saja berpendapat sama, tetapi mereka tidak bermaksud mengeluarkan fatwa larangan. Menurutnya, memang banyak kaum Muslimin Malaysia yang tidak sadar saat mengenakan logo tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau