Korban ledakan tabung gas

Merintih Sambil Ucapkan "Allahu Akbar"

Kompas.com - 25/07/2010, 15:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kejadian tabung gas bocor di Tanjung Duren, Jakarta Barat, membuat Sawiyah (45) mengalami luka bakar serius di sekujur tubuhnya dari dada hingga kaki. Tak henti-hentinya ia merintih dan mengucap doa sambil berbaring lemah di ruang Laban, Rumah Sakit Sumber Waras.

"Allahu Akbar... Allahu Akbar... panas... panas...," rintihnya berkali-kali, Minggu (25/7/2010), saat dijumpai para pewarta. Karena kondisi tersebut, Sawiyah yang seluruh tubuhnya dibalut perban itu pun tidak bisa dimintai keterangan lebih lanjut.

Berdasarkan keterangan Diah, tetangga Sawiyah, Sawiyah ketika itu hendak menolong Karsan dan Zainudin (asal mula gas bocor) yang tinggal persis di depan rumahnya. "Lagi buka pintu di depan rumah pas mau keluar nolongin orang, apinya justru langsung nyamber ke dia," ungkap Diah kepada para pewarta itu.

Peristiwa naas ini terjadi karena kebocoran pada pentil tabung gas tiga kilogram milik Karsan. Sebanyak sepuluh orang yang sebagian besar adalah pedagang bubur tersebut mengalami luka bakar dalam kejadian ini.

Sawiyah juga harus rela seluruh tubuhnya dari dada hingga kaki dibalut perban. Pipinya tampak melepuh dan rambutnya langsung rontok manakala dipegang. Sawiyah hanya bisa merintih pedih dan berulang kali meneriakkan Allahu Akbar.

Kejadian yang menimpa Sawiyah bukan satu dua kalinya terjadi. Berbagai kejadian tabung gas bocor dilaporkan terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Namun, dari semua korban tersebut, masyarakat kelas bawahlah yang kini menanggung risikonya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau