Memanusiakan Pekerja Rumah Tangga

Kompas.com - 26/07/2010, 17:07 WIB

KOMPAS.com - Pekerja rumah tangga dapat berperan sangat besar dalam kehidupan pribadi kita, bahkan untuk keberlangsungan ekonomi keluarga dan masyarakat.

Bayangkan apabila suami-istri tidak lancar bekerja karena tidak memiliki PRT, seimbangkah biaya material dan non-material yang harus dikeluarkan dengan gaji yang diberikan kepada PRT?

Ibu bekerja, Pam, menulis surat ini:
”Aku ada masalah dengan pekerja rumah tanggaku. Aku menggajinya Rp 700.000 per bulan, bersih. Ia menginap di rumahku yang ukuran rumah 6 m x 20 m. Ruang tidurnya sekitar 2 x 3 m persegi. Makan, sabun, pembalut, dan kebutuhan yang diperlukannya diperoleh di luar gaji yang ia terima. Di rumah, aku tinggal bersama anakku yang masih berusia 2 tahun 10 bulan. Suamiku bekerja di luar kota, dan pulang per 4 bulan sekali.

Saya memberi gaji kepada PRT segitu karena saya pikir ia telah mengerjakan tugas all in, artinya mencuci, memasak, menjaga anakku, mengantar dan menemaninya ke sekolah. Pokoknya, mengerjakan semua urusan rumah tangga yang tidak bisa kutangani selama aku bekerja di kantor. Akan tetapi, lingkungan sekitar bilang gaji yang kuberikan kepada PRT-ku merusak pasar, saya dianggap sombong menggaji PRT yang menurut mereka tinggi. Biasanya di tempatku tinggal rata-rata gaji PRT adalah Rp 400.000 hingga Rp 450.000 per bulan, dan mengerjakan all in juga sepertiku, dan sebagian luas rumahnya melebihi luas rumahku.

Saya tidak bermaksud merusak pasar. Saya hanya ingin menghargai PRT-ku. Jika saya yang melakukan pekerjaan yang dilakukannya, itu berat bagi saya. Juga kondisinya sangat berbeda dengan situasi kerjaku di kantor. Namun, saya juga tidak ingin interaksi sosial dengan para tetangga menjadi buruk. Saya mohon masukan Mbak, bagaimana seharusnya saya bersikap? Sebenarnya berapa upah yang pantas jika saya ingin menghargai PRT saya?”

Tuntutan perlindungan vs profesionalitas
Di seputar Jabodetabek, cukup umum menggaji PRT (yang menginap) sejumlah Rp 400.000-Rp 500.000 per bulan, dan sekitar Rp 250.000-Rp 400.000 untuk yang pulang pergi membersihkan rumah atau mencuci. Awalnya saya menyangka bahwa PRT yang bekerja di rumah megah dengan majikan kelas atas dan tuntutan melayani gaya hidup high class akan memperoleh gaji yang signifikan lebih besar daripada PRT yang bekerja pada kelompok menengah atau menengah bawah. Ternyata dugaan saya tidak sepenuhnya benar. Majikan kelas atas belum tentu menggaji lebih besar karena menganggap PRT tidak mempunyai keterampilan profesional.

Ada banyak perdebatan dalam masyarakat mengenai tuntutan perlindungan kerja versus profesionalitas PRT. Ada yang memperjuangkan PRT harus memperoleh gaji setidaknya sebesar upah minimum regional (UMR), dengan berbagai aturan perlindungan. Ada pula yang mengeluh PRT tidak profesional, tidak pantas digaji sebesar UMR, juga seharusnya PRT berterima kasih karena bisa ”numpang” tempat tinggal dan ikut makan di keluarga majikan.

Bayangkan apabila harus menyewa rumah sendiri. Yang tidak setuju pengaturan upah PRT mengatakan akan bersikap sangat ”tegas” dengan sepenuhnya menuntut profesionalitas PRT apabila sampai ada aturan upah minimal, tidak lagi bersedia menerima PRT yang menginap, dan tidak mau lagi menyediakan keperluan-keperluan lain (misalnya sabun, odol, sikat gigi) untuk PRT-nya.

Memanusiakan PRT
Pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga sangat dibutuhkan untuk menunjang perguliran aktivitas keluarga, masyarakat, dan kehidupan ekonomi negara. Di sisi lain, kerja rumah tangga paling tidak memperoleh perlindungan, paling rentan pelanggaran hak, paling murah bayarannya, paling tidak membanggakan.

Dengan bayaran Rp 450.000 per bulan, yang berarti sekitar Rp 15.000 per hari, kita meninggalkan rumah kepada PRT, memercayakan anak dan rumah tangga kita kepada mereka. Tentu ada cukup banyak dari kita yang cemas dengan usulan kenaikan upah PRT mengingat gaji kita sendiri yang amat terbatas. Untuk keluarga berpenghasilan lima jutaan rupiah, menggaji PRT sebesar UMR berarti sudah menghabiskan 20 persen anggaran.

Akan tetapi, banyak pula dari kita yang sebenarnya sangat mampu menggaji PRT dengan lebih baik. Menarik bahwa cukup banyak orang merasa keberatan menaikkan gaji PRT-nya, tetapi mampu dan sukarela mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan untuk makan malam, bersedia membayar PRT pengganti dengan remunerasi harian yang sangat mahal di hari-hari raya saat PRT sangat langka, atau malah ramai-ramai menginap di hotel mewah menyewa beberapa kamar, yang mungkin berbiaya entah berapa bulan gaji PRT.

Masih ada cukup banyak pula PRT anak yang memiliki dan harus dipenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya secara optimal, tetapi dalam kenyataannya situasinya sering lebih tak terlindungi. Perlu pula disinggung soal latar belakang keluarga atau pribadi yang khusus, misalnya miskin, pecah, atau tercabut dari akar, yang menyebabkan PRT anak lebih rentan eksploitasi.

Kemampuan ekonomi masyarakat memang berbeda-beda. Yang terpenting adalah memiliki niat baik dulu untuk menyusun aturan perlindungan yang sama-sama menguntungkan. Dengan demikian, majikan lebih terpenuhi kebutuhan dan hak-haknya, dapat meninggalkan rumah dengan hati nyaman, tidak kesal karena PRT ”tidak bisa apa-apa”, tidak harus waswas bahwa PRT tiba-tiba ”ngambek” minta pulang, atau melakukan hal-hal yang merugikan. Sementara itu, PRT juga dapat makin meningkatkan profesionalitasnya.

Semoga Ibu Pam dapat bersikap rendah hati untuk menghindari konflik dengan tetangga, sekaligus memengaruhi sekitar untuk lebih menghargai PRT dengan cara masing-masing. Apabila kita dapat bekerja dengan nyaman di luar rumah, bersosialisasi dengan orang-orang penting, mengembangkan karier, memperoleh uang memadai, bahkan dalam jumlah besar karena ada PRT yang menjaga rumah, mengapa tidak menghargai PRT dengan lebih baik? Pada akhirnya, memanusiakan PRT dan memanusiakan orang lain adalah juga memanusiakan diri kita sendiri.

(Kristi Poerwandari, psikolog)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau