Sisi lain istana

Peristiwa Kelabu 27 Juli 1996 dan Setan Gundul

Kompas.com - 27/07/2010, 02:42 WIB

Selasa 27 Juli 2010 ini, tragedi Sabtu kelabu di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat, berusia 14 tahun. Penyerbuan markas pusat Partai Demokrasi Indonesia itu menjadi salah satu titik arus politik menuju peristiwa bulan Mei 1998 yang menggeser Soeharto dari kursi kepresidenan.

Kamis, 20 Juni 1996, pagi di Medan dibuka Kongres PDI Soerjadi yang dinilai mengudeta posisi Ketua Umum PDI Megawati Soekarnoputri. Menteri Dalam Negeri Yogi SM dan Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung memberikan sambutan dalam kongres ini. Sementara di Jakarta berlangsung arak-arakan unjuk rasa ribuan pendukung Megawati dari Monas (wilayah ring satu Istana) sampai Jalan Diponegoro. Terjadi bentrok antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan. Jatuh korban luka-luka. Didampingi Kasdam Jaya Brigjen Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima Kodam Jaya Mayjen Sutiyoso yang berada di salah satu titik peristiwa bentrokan di Jalan Cut Mutia mengecam aksi unjuk rasa itu.

Ketika bentrokan terjadi, Soeharto sedang meresmikan pengoperasian jalan tol lingkar dalam kota Jakarta di Pluit, Jakarta Utara. Ketika itu juga diumumkan kenaikan tarif jalan tol untuk kendaraan pribadi dari Rp 3.500 menjadi Rp 4.000.

Jumat, 21 Juni 1996 (sehari sebelum Kongres PDI Medan menetapkan Soerjadi jadi ketua umum), para tokoh aksi unjuk rasa (Sophan Sophiaan, Tarto Sudiro, dan Roy BB Janis) bertemu Sutiyoso, Yudhoyono, dan para asisten Pangdam di Kodam Jaya, Cililitan. ”Ketika itu dibicarakan mengenai kanalisasi unjuk rasa. Sutiyoso mengatakan, dia punya pemikir yang pandai soal ini, yakni Yudhoyono,” ujar Roy Janis mengenang peristiwa itu, Senin (26/7).

”Yudhoyono waktu itu bercerita tentang pengalamannya sebagai danrem di Yogyakarta mengatasi unjuk rasa mahasiswa di jalan dengan dialihkan ke dalam kampus,” ujar Roy lagi.

Kemudian, kata Roy, Sutiyoso menyetujui diadakan mimbar bebas di markas PDI di Jalan Diponegoro. ”Ketika saya mengatakan tempatnya sempit, Sutiyoso setuju jalan ditutup,” kata Roy.

Setelah itu, setiap hari berlangsung acara mimbar bebas di Jalan Diponegoro dari pagi hingga malam. Yang hadir tidak hanya warga PDI pendukung Megawati, tetapi juga dari berbagai unsur.

Setan gundul

Rabu, 25 Juli 1996, Soerjadi dan teman-temannya bertemu Soeharto di Bina Graha. Soeharto minta agar waspada terhadap ”setan gundul” yang menunggangi PDI.

Sabtu, 27 Juli, terjadi serbuan ke Jalan Diponegoro 58.

Senin, 29 Juli, Soeharto memanggil Menko Polkam Soesilo Soedarman dan para pejabat lainnya di Istana Merdeka. Setelah itu terjadilah pemburuan terhadap Partai Rakyat Demokratik (PRD). (J Osdar)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau