Indikator

Jalan Stagnan, Kemacetan Menghadang

Kompas.com - 27/07/2010, 19:37 WIB

Kemacetan di Kota Bandung makin sulit ditanggulangi. Hal ini terjadi akibat pertumbuhan kendaraan bermotor yang tidak sebanding dengan pertambahan ruas jalan. Kondisi itu diperparah dengan kendaraan dari luar yang masuk ke Kota Bandung setiap akhir pekan.

Menurut catatan Kepolisian Daerah Jawa Barat, pertumbuhan kendaraan di Kota Bandung tertinggi dibandingkan dengan daerah lainnya di Jabar. Dalam lima tahun terakhir kendaraan bermotor di Kota Bandung bertambah sekitar 60.000 unit per tahun atau meningkat 11 persen per tahun. Pertumbuhan kendaraan itu didominasi jenis sedan dan sepeda motor. Kedua jenis kendaraan itu tumbuh masing-masing 19 persen dan 14 persen per tahun.

Pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor itu tidak sebanding dengan panjang jalan. Lima tahun terakhir panjang jalan di Kota Bandung hanya tumbuh 1 persen per tahun atau bertambah 14 kilometer per tahun. Sementara total luas jalan 8,35 kilometer persegi atau hanya 5 persen dari luas wilayah Kota Bandung yang tercatat 167,29 kilometer persegi. Luas jalan idealnya 15-20 persen dari luas wilayah.

Jika kondisi itu berlanjut, kemacetan bisa jadi menyergap di ruas jalan utama Kota Bandung, terutama pada akhir pekan atau libur panjang. Setiap akhir pekan tak kurang dari 30.000 mobil dari luar daerah masuk ke Kota Bandung dan memperparah kemacetan di kota ini. (ERI/LITBANG KOMPAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau