Kematian mendadak

Tiga Menit, Peringatan Pertama dan Terakhir

Kompas.com - 28/07/2010, 03:31 WIB

Kematian mendadak sering kali menimbulkan berbagai pertanyaan di benak kerabat, keluarga, dan teman yang ditinggalkan. Terlebih lagi jika sebelumnya orang tersebut terlihat sehat dan tiba-tiba meninggal dunia disertai keluarnya busa dari mulut dan wajah membiru. Berbagai dugaan melintas, mulai dari stroke, serangan jantung, bahkan keracunan.

”Khusus untuk dugaan keracunan tentunya diperlukan otopsi. Keracunan biasanya disertai keluhan seperti sesak yang lama, muntah, ada sakit pada perut. Salah satu racun yang dapat menimbulkan kematian dengan cepat ialah sianida. Tergantung banyaknya racun yang masuk dalam tubuh,” ujar dokter spesialis penyakit dalam serta spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah, Djoko Maryono, Selasa (27/7).

Salah satu penyakit yang sering dituding menjadi penyebab kematian mendadak ialah serangan jantung (infark miokard akut).

”Pada sindroma koroner akut (penyakit jantung koroner), sekitar 25 persen dapat menyebabkan kematian mendadak yang bisa tanpa peringatan. Orang tersebut tidak mengetahui dirinya mengalami penyakit itu dan tidak ada tanda-tanda nyeri. Kematian mendadak kerap terjadi akibat fibrilasi ventrikel atau gangguan irama jantung secara mendadak,” ujar Djoko.

Dokter spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah di RSUP Dr Hasan Sadikin/FK Universitas Padjadjaran, Bandung, A Fauzi Yahya, dalam artikelnya (Kompas, 6 Agustus 2009) yang membahas kematian mendadak pada penyanyi Mbah Surip menyebutkan, pada gangguan irama ganas (ventrikel fibrilasi), irama jantung yang kacau membuat jantung hanya bisa bergetar hingga 300 kali per menit, tetapi tidak mampu berkontraksi.

Dugaan terkuat, kekacauan irama ini disebabkan arus bolak-balik (reentry) pada area jantung dengan inhomogenitas elektrik (arus listrik tidak homogen) lantaran suplai oksigen yang terganggu.

Jika tidak segera diatasi, gangguan irama itu mampu menyetop kerja jantung sehingga pasokan darah ke seluruh tubuh, termasuk otak, akan terhenti begitu saja.

Dalam tiga menit

Djoko mengatakan, dalam kasus fibrilasi ventrikel, kematian bisa terjadi hanya dalam waktu tiga menit. ”Dapat terjadi tanpa peringatan dan tanda-tanda. Serangan itu menjadi peringatan pertama dan terakhir,” ujarnya.

Penanganan fibrilasi ventrikel ialah dengan defibrilasi menggunakan aliran listrik. Cara lain dengan pijat jantung yang dilakukan oleh tenaga terampil.

Secara umum, sindroma koroner akut, menurut Djoko, antara lain disebabkan sumbatan di pembuluh darah koroner. Penyumbatan pembuluh darah koroner lantaran ateroklerosis (perkapuran) yang diawali dengan penimbunan lemak pada lapisan-lapisan pembuluh darah tersebut. Di samping itu, terjadi penyempitan (spasme).

Pembuluh koroner mengalirkan darah ke otot jantung sehingga organ itu memperoleh oksigen dan nutrisi untuk berkontraksi tanpa henti. Penyumbatan itu menghambat aliran oksigen dan nutrisi ke otot jantung berkurang sehingga terjadilah gangguan keseimbangan yang berujung pada kerusakan otot jantung.

Faktor risiko, antara lain, adanya ”bakat”, misalnya orangtua yang berpenyakit jantung, diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan merokok. Faktor-faktor tersebut merusak pembuluh darah.

Pencegahan primer terhadap sindroma koroner akut terutama ialah dengan menghindari faktor risiko dengan, antara lain, menjalani gaya hidup sehat, seperti olahraga yang cukup dan teratur, pola makan tepat, dan istirahat cukup.

Selain itu, dapat dengan terapi jangka panjang menggunakan antikoagulan (pencegah penggumpalan darah). Obat yang sering kali dipakai, antara lain, aspirin dosis rendah dan heparin.

Dia menambahkan, ventrikel fibrilasi dapat dipicu pula oleh kadar magnesium yang rendah dalam darah.

”Kecukupan magnesium dapat dijaga dengan mengonsumsi ikan. Terutama ikan lele dan patin setidaknya tiga kali satu minggu sekitar 100 gram sekali konsumsi,” ujarnya. (INE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau