Perguruan tinggi

Orang Berduit Berebut Masuk Kedokteran

Kompas.com - 28/07/2010, 13:47 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Meskipun dibanderol setinggi langit, ratusan anak dari kalangan kaya masih berebut kesempatan menempuh pendidikan di fakultas kedokteran yang terkenal mahal. Tak percaya? 

Tengoklah di Universitas Brawijaya (Unibraw), misalnya. Saat ini, ada 693 siswa yang mendaftar di seleksi program minat dan kemampuan (SPMK) Fakultas Kedokteran Unibraw. Adapun SPMK adalah jalur alternatif masuk ke Unibraw atau di luar SNMPTN.

Namanya jalur alternatif, tentu saja biaya pendidikan yang dipatok lebih mahal dari jalur reguler (SNMPTN). Untuk fakultas kedokteran, biaya yang harus dibayar di semester pertama menembus Rp 134 juta. Kalau disetarakan dengan dana BOS, uang sebanyak itu cukup untuk menyekolahkan 56 siswa SD di Kota Malang sampai lulus. Atau, biaya itu nyaris setara dengan beasiswa yang diterima seorang siswa di SMA Sampoerna Academy Sawojajar, juga sampai tamat sekolah.

Namun, "ngebetnya" masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah calon dokter itu ternyata tak hanya di perguruan tinggi negeri (PTN). Di fakultas kedokteran kampus swasta, seperti Universitas Islam Malang (Unisma), juga kebanjiran peminat. Bahkan, Rektor Unisma Abdul Mukri Prabowo mengaku pihaknya sampai menolak lebih dari 400 pelamar di fakultas kedokteran tahun ini.

"Peminat ada 500 lebih, sementara kuota kami hanya ada 100. Itu pun sudah kami tambah karena tahun lalu kami masih menerima sekitar 50 saja di fakultas ini," kata Mukri, Selasa kemarin.

Padahal, kata dia, biaya pendidikan di Unisma tak kalah tingginya. Untuk masuk ke fakultas ini dibedakan dalam empat gelombang yang masing-masing memberikan harga berlainan, yakni Rp 75 juta, Rp 95 juta, Rp 105 juta, dan Rp 125 juta. Semakin awal mendaftar, semakin murah.

Sementara itu, Pembantu Rektor I Unibraw Bambang Suharto mengatakan, wajar kalau kedokteran menjadi primadona masyarakat. Alasannya, dokter tetaplah sebuah profesi yang menjanjikan. Ini bisa dilihat dari umumnya para dokter yang hidup berkecukupan.

"Lulusan kedokteran itu tidak perlu pusing cari pekerjaan, mereka bisa buka praktik sendiri," kata Bambang.

Bambang juga mengungkapkan, pendidikan dokter memang memakan biaya yang sangat besar. Ditambah, kata dia, pihaknya memang memerlukan dana untuk menyubsidi mahasiswa tak mampu.

"Kalau hanya mengandalkan biaya pendidikan dari jalur reguler, kami jelas tidak bisa memenuhinya," kata Bambang. (nab)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau