Pengambilalihan Inalum Butuh 120 Juta Dollar AS

Kompas.com - 28/07/2010, 15:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia membutuhkan dana 120 juta dollar AS jika hendak mengambil alih sepenuhnya dan mengoperasikan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Kebutuhan dana ini merupakan kompensasi yang harus dibayarkan kepada pihak atau Pemerintah Jepang.

Hal ini disampaikan Ketua Otorita Asahan Effendi Sirait dalam paparannya pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (28/7/2010) di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta.

Apabila proyek Asahan atau PT Inalum diambil alih sepenuhnya oleh Pemerintah Indonesia, maka Pemerintah RI harus membayar kompensasi sebesar nilai buku. Pada tahun 2013, nilai buku PT Inalum diproyeksikan 1,229 juta dollar AS. Jadi, kompensasi yang harus dibayarkan Pemerintah kepada investor Jepang sebesar 58,88 persen dari nilai buku perusahaan, yaitu 723 juta dollar AS.

Dana tunai yang ada di PT Inalum sebesar 628 juta dollar AS, maka kekurangan dana untuk pengambilalihan diperkirakan 95 juta dollar AS. Perkembangan terakhir, untuk mengoperasikan PT Inalum masih dibutuhkan tambahan dana tunai untuk modal kerja 25 juta dollar AS sehingga dana yang diperlukan untuk ambil alih dan pengoperasian sebesar 120 juta dollar AS.

Sampai saat ini tim teknis masih terus mengkaji atas pilihan terbaik Pemerintah RI dalam proyek Asahan. Dalam kajian awal, tim teknis dan hasilnya telah dilaporkan kepada Menteri Koordinator Perekonomian, kata dia. Sejauh ini, tim teknis itu mengajukan dua pilihan bagi Pemerintah RI.

Pilihan pertama, PT Inalum diambil alih sepenuhnya oleh Pemerintah RI. Sumber atau mekanisme pendanaan dengan menggunakan dana APBN sebesar 723 juta dollar AS, dan setelah itu dapat segera dikembalikan dari dana kas PT Inalum. Jika pemerintah memutuskan tidak menggunakan dana dari APBN, maka pemerintah bisa menugaskan BUMN tertentu untuk menyiapkan dana penyertaan modal.

Opsi kedua, Pemerintah RI sebagai pemegang saham mayoritas di PT Inalum dengan meningkatkan kepemilikan saham Pemerintah di PT Inalum minimal 51 persen melalui mekanisme valuasi aset atau saham PT Inalum. Mekanisme pertama, pemerintah lebih dulu membeli saham Jepang di PT Inalum sesuai nilai buku. Kedua, valuasi aset oleh konsultan independen, dan ketiga, penjualan saham kembali ke pihak Jepang dengan harga valuasi itu sehingga Indonesia menjadi pemegang saham mayoritas.

Effendi menjelaskan, jika PT Inalum diambil alih sepenuhnya oleh Pemerintah, dampak positifnya adalah Pemerintah RI akan mendapat pembagian laba lebih besar. PT Inalum diperkirakan mampu memberi laba sekitar 120 juta dollar AS per tahun. Sebagian besar kebutuhan aluminium dalam negeri terpenuhi, dan kendali pengelolaan PT Inalum sebagai industri aluminium terintegrasi sepenuhnya berada di tangan Pemerintah RI.

Dampak negatifnya, kebutuhan dana untuk mengambil alih 120 juta dollar AS, dan kemungkinan ada aliran dana dari Indonesia ke Jepang sebesar 723 juta dollar AS untuk pembelian saham Jepang pada nilai buku. Dampak lain adalah, hilangnya kesempatan investasi baru yang ditawarkan Jepang untuk ekspansi smelter 367 juta dollar AS dan pembangunan pembangkit listrik baru 150 megawatt sebesar 300-500 juta dollar AS.

Jika memilih opsi kedua, dampak positifnya adalah, pemerintah diperkirakan akan memperoleh pemasukan dana dari selisih penjualan saham PT Inalum berdasarkan harga valuasi. Kendali pengelolaan PT Inalum sebagai industri aluminium terintegrasi tetap berada di tangan Pemerintah RI.

Sementara dampak negatifnya adalah, hak atas keuntungan PT Inalum ke depan berkurang sesuai proporsi saham yang disepakati. Suplai aluminium ke dalam negeri sesuai proporsi saham Pemerintah RI.

Sejauh ini pihak Jepang mengusulkan untuk melanjutkan kerja sama proyek Asahan selama 30 tahun dengan rencana ekspansi PPA dari kapasitas 250.000 ton per tahun menjadi 317.000 ton per tahun dengan investasi 367 juta dollar AS. Pihak Jepang juga akan mengupayakan pembangunan pembangkit tenaga listrik dengan kapasitas 150 MW di lokasi proyek tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau