Kenali Anatomi Payudara Sebelum Menyusui

Kompas.com - 28/07/2010, 16:23 WIB

KOMPAS.com - Masa menyusui akan lebih menyenangkan jika ibu memiliki pemahaman menyeluruh tentang produksi ASI, termasuk gudang ASI, yakni payudara. Anatomi payudara menjadi penting agar ibu tak mempermasalahkan bentuk atau ukuran payudara, saat ASI dirasa tak keluar. Catatan pentingnya adalah bahwa semua payudara ibu bisa mengeluarkan ASI.

Farahdiba Tenrilemba Jafar, Sekretaris Jenderal Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mengungkapkan, gudang ASI, volume yang dikeluarkan, serta penyalurannya (deras-tidaknya saat keluar) bervariasi bagi setiap perempuan. Karenanya setiap ibu perlu memahami anatomi payudara masing-masing. Apalagi saat memutuskan untuk menggunakan posisi menyusui tertentu, atau menggunakan tangan untuk menyangga atau memegang payudara ketika sedang memerah ASI.

Berikut berapa catatan penting seputar payudara, seperti disampaikan Diba saat workshop "Breastfeeding Tips For Working Moms" beberapa waktu lalu.

Bentuk payudara mulai berubah saat hamil

Bentuk payudara mulai berubah saat usia kehamilan 13 minggu hingga satu bulan setelah persalinan. Payudara akan terus berubah hingga ibu melahirkan dan menyusui anak kedua hingga ketujuh, misalnya.

"ASI sudah mulai diproduksi sebelum bayi lahir. Saat saluran ASI sudah bekerja ukuran payudara mulai berubah. Dan yang membuat payudara berubah bukan karena menyusui namun pengaruh dari kehamilan," tegas Diba, menambahkan seringkali ibu khawatir payudara berubah karena menyusui. Kekhawatiran inilah yang akhirnya menghambat penyaluran ASI.

Payudara perlu dirangsang
Produksi ASI akan lancar jika payudara sebagai gudang ASI terus-menerus dirangsang. Caranya, tingkatkan frekuensi bayi menyusui selama 72 jam pertama atau dengan memerah ASI. Semakin sering penyaluran ASI dengan isapan bayi, produksi ASI akan meningkat secara alamiah.

Tiga hari paska melahirkan, jika ibu secara kosisten menstimulasi payudaranya (dengan isapan bayi), maka ASI akan berubah dari ASI transisi menjadi ASI matur (putih, bukan bening), ditambah lagi volume juga semakin meningkat.

"ASI tidak akan habis kecuali frekuensi menyusui memang berkurang," tegas Diba.

Bagian payudara

Payudara memiliki tujuh bagian, mulai pangkal payudara hingga puting. Pabrik ASI lebih mendominasi payudara daripada lemak, perbandingannya 2:1. Sebanyak 65 persen pabrik ASI terletak dalam radius 30 milimeter dari dasar puting.

Bagian paling atas (pangkal payudara) adalah penyangga lemak dan pabrik ASI. Sedangkan lemak terletak pada dinding dada atau bagian belakang payudara. Lemak juga terdapat di sekitar area pabrik ASI bagian tengah. Terdapat juga lemak di bawah kulit, namun komposisinya masih lebih banyak pabrik ASI daripada lemak di payudara. Bagian dasar puting merupakan saluran ASI utama, dan puting menjadi saluran ASI dengan jumlah bervariasi bagi setiap perempuan, antara empat hingga 18 titik saluran ASI pada puting.

"Jika puting hanya memiliki empat titik, ASI akan keluar sedikit. Berbeda dengan ASI yang keluar deras dari 18 titik saluran ASI. Untuk empat titik, artinya harus lebih sering menyusui dan lebih lama waktunya," jelas Diba.

Saluran ASI bukan sebagai ruang penyimpanan

Fungsi utama saluran ASI adalah untuk mengalirkan dan membawa ASI dari pabriknya, bukan untuk menyimpan. Jadi, ASI yang sudah diproduksi di pabrik ASI (payudara) sebaiknya langsung dialirkan melalui saluran ASI (puting) dengan menikmati waktu menyusui. Isapan bayi akan mengosongkan maksimal 70 persen ASI dari payudara, untuk kemudian berproduksi kembali secara alamiah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau