Kolom olahraga

Naturalisasi, Lupakan Saja!

Kompas.com - 29/07/2010, 02:47 WIB

Anton Sanjoyo

Sebagai bangsa, kita barangkali sudah kehilangan akal, mungkin logika juga, atau memang tak pernah punya kepercayaan diri dalam hiruk pikuk pergaulan sepak bola internasional. Tadinya, saya pikir ide naturalisasi pemain hanya olok-olok sebagian teman, untuk mencari jalan pintas mendongkrak prestasi tim nasional sepak bola kita yang jeblok di hampir semua panggung. Eh, nyatanya, proyek potong kompas ini diamini oleh PSSI, juga Kantor Menpora. Sudah sedemikian putus asakah para pemangku kepentingan sepak bola di negeri ini?

Ketika pada awal milenium ketiga negeri tetangga Singapura heboh memberikan kewarganegaraan kepada belasan atlet China untuk mendongkrak pamor olahraganya, saya tak heran. Singapura tak punya banyak sumber daya. Jangankan manusia, tanahnya yang sempit saja harus diperluas dengan mengimpor (sebagian besar ilegal) pasir dan tanah dari Pulau Bintan dan Batam. Dengan pendapatan per kapita puluhan kali lipat dari Indonesia, Singapura tak sulit ”membeli” atlet dan kebanggaan semu di pentas dunia.

Tentang sepak bola, mereka juga menaturalisasi sejumlah pemain dan sukses beberapa kali menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. Boleh jadi, Singapura menikmati suksesnya setelah dalam beberapa dekade sebelumnya mereka cuma anak bawang jika bergaul tentang olahraga dengan para tetangga dekatnya, terutama Malaysia dan Indonesia.

Pertanyaannya kini, apakah Indonesia yang begitu superior di Asia Tenggara dalam hal olahraga, juga sepak bola sebelum era tahun 2000-an, sudah benar-benar patah arang sehingga harus ikut-ikutan Singapura? Meski resminya PSSI berusaha menaturalisasi pemain berdarah Indonesia, tetap saja ini sebuah langkah berbau putus asa, tanpa tujuan yang benar-benar solid, dan hampir dipastikan tanpa kesinambungan.

Sejumlah nama blasteran digadang-gadang oleh PSSI untuk dinaturalisasi dan akan memperkuat tim Merah Putih. Di tabloid Bola saya baca, mereka antara lain Serginho van Dijk (Belanda), Kim Jeffrey Kurniawan (Jerman), Donovan Partosoebroto (Belanda), dan Jason Oost (Belanda). Ada pula blasteran Italia, Alessandro Trabucco. Entah mereka memang jempolan atau sekadar wah karena main di klub-klub luar negeri, yang pasti, konon, Badan Tim Nasional PSSI bergairah sekali menaturalisasi mereka.

Taruhlah para sinyo ini memang punya kualitas yang rata-rata lebih baik ketimbang pemain-pemain asli Indonesia, yang tumbuh, besar, dan berkembang dalam kultur sepak bola kita, apakah semuanya lantas mulus begitu saja mendongkrak prestasi sepak bola Indonesia. Taruhlah lagi semua kendala, seperti Undang-Undang Kewarganegaraan atau syarat-syarat FIFA, bisa diatasi, apakah problem ambruknya prestasi sepak bola kita bisa teratasi begitu saja. Jawabannya pasti tidak.

Harus disadari, tim nasional sepak bola, yang memakai lambang Garuda di dada serta merepresentasi bangsa, bukanlah sekadar sekumpulan pemain yang kebetulan berkostum sama. Pemain yang dibutuhkan untuk membela Merah Putih tidak melulu nomor satu dalam urusan bola, tetapi lebih dari itu, punya jiwa patriotisme dan nasionalisme yang akan mengatasi segala rintangan teknis dan beban mental.

Menjadi pemain timnas bukan karena kebetulan main di klub hebat, melainkan sebuah pencapaian tertinggi atlet sepak bola yang merintis kariernya secara serius lewat sebuah iklim kompetisi yang berat dan pahit. Bagi pemain sepak bola, timnas adalah puncak karier dan harus ditempatkan di posisi paling sakral. Dengan kondisi demikian, siapa pun pemain bola akan memberikan segala-galanya, 1.000 persen kemampuannya untuk timnasnya, untuk negaranya.

Terakhir kali saya melihat fenomena ini adalah menyaksikan Bambang Pamungkas dan kawan-kawan tampil di Piala Asia 2007. Meski kalah, di antaranya melawan Korea Selatan, mereka tampil heroik dan disambut bak pahlawan. Kontras dengan tim yang anggotanya lebih kurang sama dua tahun kemudian saat kita tersingkir dari kualifikasi Piala Asia 2011. Kalah melawan Oman, nyaris tak ada bahasa tubuh yang menunjukkan bahwa mereka pemain timnas dengan Garuda di dada.

Kita tak pernah tahu, apakah Van Dijk yang gede di Belanda itu punya rasa nasionalisme Indonesia atau tidak. Kita juga hanya bisa menduga, apakah Kim Jeffrey yang sejak orok tinggal di Jerman mau menanggalkan kewarganegaraan Jerman-nya yang pasti memberikan lebih banyak kemudahan dibandingkan berpaspor hijau. Yang kita tahu pasti, mereka tidak dibesarkan di Indonesia dan paham soal nasionalisme dan patriotisme Indonesia.

Bagi sebuah timnas, bara nasionalisme tetap relevan jika berbicara dalam konteks prestasi. Spanyol sudah membuktikannya dengan mengedepankan nasionalisme untuk menjadi juara Eropa 2008 dan juara dunia 2010. Bahkan, Jerman, yang kini ditaburi pemain keturunan asing, juga membuktikan bahwa nasionalisme tetap menjadi landasan untuk berprestasi. Mesut Ozil yang keturunan Turki, Sami Khedira yang berdarah Tunisia, atau Jerome Boateng yang keturunan Ghana sudah ”Jerman” sejak bayi. Mereka lahir, tumbuh, dan besar serta sejak kecil main bola di Jerman.

Maka, daripada buang-buang energi mencari blasteran Indonesia, jauh lebih baik stamina PSSI difokuskan untuk melahirkan generasi baru penerus Bambang Pamungkas. Lupakan naturalisasi!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau