Mau Panjang Umur? Carilah Teman Baik

Kompas.com - 29/07/2010, 09:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tak ada seorang pun yang mampu bertahan hidup kesepian tanpa bantuan teman. Meski sering kali hanya menghabiskan waktu untuk mengobrol atau membahas hal remeh-temeh, memiliki teman-teman yang baik juga dipercaya dapat memperpanjang hidup seseorang.

Peneliti terbaru di Amerika Serikat menunjukkan, memiliki komunitas dan berhubungan baik dengan banyak teman dapat menambah peluang untuk bertahan hidup seseorang hingga sebesar 50 persen.

Kesimpulan itu adalah hasil riset yang dipimpin Julianne Holt-Lundstad dari Brigham Young University dengan mengkaji 150 studi untuk melihat keterkaitan antara peluang untuk memperpanjang hidup dan hubungan sosial.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa punya banyak teman baik ternyata bermanfaat memperpanjang hidup daripada mengonsumsi 15 batang rokok sehari atau minuman beralkohol. Karena melalui pertemanan, rasa kepedulian yang timbul terhadap orang lain membuat kita menjadi lebih peduli terhadap diri sendiri.

Namun, Lundstad juga mengingatkan, dalam era modern sekarang ini kualitas hubungan sosial semakin memburuk karena seseorang dituntut berjuang menyeimbangkan antara karier dan keluarga, serta menemukan kehidupan yang seimbang dan bahagia.

Padahal, dengan kehilangan hubungan sosial, sama artinya kehilangan dukungan sosial. Lebih jauh, Lundstand mengatakan, kehilangan hubungan sosial dampaknya lebih buruk dibanding obesitas atau tidak berolahraga.

Hal itu disebabkan karena teman-teman, relasi, dan keluarga memiliki banyak cara untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. "Ketika seseorang terhubung dalam sebuah kelompok dan memiliki tanggung jawab terhadap orang lain, maka mereka cenderung merawat diri lebih baik," kata Lundstad.

Peserta studi ini mencakup semua orang dari berbagai latar belakang dan umur yang diketahui memiliki kasus yang sama dalam masalah kesehatan. Berdasarkan riset selama tujuh tahun itu, lebih dari 300.000 orang dari empat benua menunjukkan perbaikan tingkat kesehatan karena memiliki hubungan sosial yang kuat. Bahkan, usia mereka dua kali lebih panjang dari orang yang kesepian.

"Efek dari membina hubungan sosial menyebabkan orang dewasa tidak merasa terisolasi. Membina hubungan sosial akan memberikan perlindungan kesehatan lintas usia," kata Timothy Smith, salah seorang anggota tim peneliti.

Namun di sisi lain, Timothy juga memperingatkan bahwa kenyamanan dan teknologi yang ditawarkan era modern dapat menyebabkan beberapa orang berpikir bahwa tatap muka tidak diperlukan lagi dalam membina hubungan sosial.

Jejaring sosial Christine Northam, seorang konselor untuk masalah jejaring sosial, mengatakan bahwa pertemanan adalah hal yang penting dalam upaya mempertahankan hidup. "Kita dirancang untuk hidup dan bekerja dalam kelompok. Ini dimulai di masa kanak-kanak bersama keluarga, lalu sekolah memperluas jejaring sosial kita," jelas Northam.

Menurutnya, jejaring sosial membantu kita mempertahankan kesehatan mental dan kesejahteraan. Di sisi lain, pengisolasian berkaitan dengan penyakit mental, kecemasan, dan kesehatan yang buruk.

Selain itu, Michelle Mitchell dari Age UK mengatakan, penyakit dapat menjadi penghalang untuk memelihara hubungan sosial. "Bukan rahasia lagi kalau  hubungan sosial penting artinya untuk meningkatkan perasaan bahagia orang tua. Namun sayangnya, satu dari 10 orang yang berusia di atas 65 tahun kerap merasa kesepian. Banyak orang di masa tuanya harus berjuang mempertahankan hubungan sosial meski mendapat kesulitan dalam mobilitas, akses transportasi atau setelah kematian pasangan. Isolasi dan kesepian dapat menyebabkan gejala depresi, yang mempengaruhi satu di antara empat orang lanjut usia," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau