Pon 2012 riau

Icuk Sugiarto: Stop Jual Beli Pemain!

Kompas.com - 30/07/2010, 19:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) DKI Jakarta, Icuk Sugiarto, melarang keras praktek jual beli pemain secara instan menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau. Bentuk nyata hal tersebut dilakukan Icuk dengan mengedarkan surat resmi berisi imbauan kepada atlet dan klub bulu tangkis di wilayah DKI.

"Saya mengharapkan para atlet bulu tangkis DKI Jakarta jangan mendua. Jangan hanya dengan iming-iming mendapat Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan uang saku mereka lantas bisa pindah membela provinsi lain di PON," ujar Icuk dalam jumpa pers di kantor PBSI DKI, Jumat (30/7/2010).

"Pada PON 2008 lalu ada lebih dari 10 pebulu tangkis DKI yang pindah ke provinsi lain. Maka dari itu, saya mengambil kebijakan ini supaya PON tidak lagi jadi ajang olahraga yang menghalalkan segala cara, termasuk membeli atlet secara instan," sebutnya.

Mantan pebulu tangkis nasional ini menjelaskan pihak PBSI DKI akan menerapkan sanksi bagi atlet dan klub yang membiarkan proses jual beli ini berlangsung.

"Kalau sebuah klub sudah jadi anggota resmi dari PP PBSI DKI, hendaknya berkiblat untuk kepentingan DKI dan Indonseia saja. Oleh sebab itu, umpamanya klub tersebut hanya mendiamkan atau mendukung jual-beli pemain saya tidak segan-segan menonaktifkan atau mencoret keanggotaan mereka dari PBSI DKI," papar Icuk.

Sementara itu dalam peraturan PON sendiri memang tidak melarang atlet di suatu daerah berpindah membela daerah lain dengan syarat telah berdomisili minimal selama dua tahun di daerah yang akan dibelanya. Untuk itulah PP PBSI gencar melakukan sosialisasi terhadap imbauan ini mengingat pelaksanaan PON semakin dekat.

Meski demikian, Icuk menegaskan imbauannya ini bukan berarti melarang pemain DKI untuk berpindah secara keseluruhan. Hanya saja, ada prosedur yang harus dipatuhi oleh provinsi yang berminat.

"Jual beli pemain sebenarnya boleh saja, dengan syarat provinsi yang ingin membelinya tidak hanya merekrut pada saat menjelang PON saja, akan tetapi juga membuat klub resmi sebagai tempat bernaung bagi atlet selepas PON. Ini sekaligus pembelajaran bagi provinsi lain yang tertidur lantas seolah-olah ingin menjadi pahlawan pada PON nanti. Padahal olahraga bukan instan," tukasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau