JAKARTA, KOMPAS.com - Pihak Pertamina diminta tolak pengisian tabung gas elpiji volume 3 kilogram yang tidak berlabel. Hal ini untuk meminimalisir terjadinya kasus ledakan. Selain itu, petugas pengisian gas pun harus lebih awas terhadap kondisi tabung saat melakukan pengisian gas.
Demikian saran Wakil Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Franciscus Welirang, dalam diskusi terbatas dengan sejumlah wartawan di Wisma Indocement Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (30/7/2010).
"Pertamina selaku pelaksana, tidak bisa berkelit," kata Franky, sapaan akrab Franciscus Welirang.
Menurutnya, pihak Pertamina memiliki otoritas kuat untuk menolak tabung yang tidak berlabel, saat tabung kosong dibawa ke stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE).
Tabung itu berasal dari berbagai daerah, dengan kondisi yang bervariatif. Karena itu, sebelum diisi mestinya ada petugas yang mengecek laik tidaknya kondisi fisik tabung kosong sebelum diisi gas epiji.
"Yang pertama dicek menyangkut fisik tabung, misalnya ada atau tidak label produsen tabung, kemudian kondisi tabung dan kondisi pentil. Kalau tidak ada label dan tidak laik, tolak saja, jangan diisi gasnya," kata Franky.
Pengawasan tahap kedua, masih di SPBE, setelah gas diisi, petugas mengecek apakah ada kebocoran gas atau tidak. Caranya bisa dengan mencelupkan tabung ke dalam bak berisi air.
"Setiap tahapan pengecekan pun dibubuhi label sudah dicek, dan ditulis nama petugas yang mengecek. Dengan begitu, elpiji yang sampai ke konsumen sudah melalui prosedur yang baku, bertanggung jawab, dan konsumen terlindungi, " katanya.
Menurut Franky, mekanisme kontrol yang ketat seperti itu merupakan amanat Undang-undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Melibatkan pihak SPBE dan mencantumkan petugasnya sebagai pihak yang telah meloloskan elpiji ke konsumen agar mendorong SPBE turut bertanggung jawab terhadap keselamatan konsumen.
Sebab, ada ratusan perusahaan pengelola SPBE. "Kalau tidak ada label, sulit mengetahui elpiji yang beredar di masyarakat diisi oleh SPBE yang mana. Dan cara ini sekaligus bisa mempermudah mendeteksi ledakan tabung terjadi karena kerusakan tabung gas atau karena kerusakan aksesorinya," kata Franky. (Tribunnews/Domu D Ambarita)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang