DHAKA, KOMPAS.com - Sedikitnya 100 orang luka-luka dalam serangan para pekerja garmen Bangladesh terhadap sejumlah pabrik dan mobil, Sabtu (31/7/2010).
Aksi kekerasan para buruh yang menuntut kenaikan gaji itu menandai hari kedua protes mereka. Untuk membubarkan massa demonstran, polisi sempat menembakkan peluru hampa dan gas air mata.
Pekan ini, Pemerintah Bangladesh mengumumkan besaran upah minimum bulanan pekerja, yakni 3.000 taka (sekitar 43 dolar Amerika Serikat) sedangkan para pekerja menuntut gaji bulanan sebesar 5.000 taka.
Perdana Menteri Sheikh Hasina meminta para pekerja agar tenang. "Siapa yang untung kalau industri garmen hancur? Para pekerja seharusnya tidak ikut dalam kegiatan yang justru mengancam sumber roti mereka," kata Sekretaris Pers Kepresidenan, Abul Kalam Azad.
Industri garmen merupakan penyerap tenaga kerja terbesar kedua di Bangladesh setelah sektor pertanian. Industri garmen juga merupakan penyumbang 80 persen pendapatan tahunan dari ekspor Bangladesh yang mencapai 16 miliar dolar AS.
Insiden yang bermula di kawasan industri, Ashulia, sekitar 30 kilometer utara ibukota Bangladesh, Dhaka, hari Sabtu, itu tidak hanya melukai para pekerja tetapi juga polisi.
Laporan suratkabar setempat menyebutkan, beberapa polisi yang mencoba menghentikan penyerangan para pekerja ke mobil-mobil polisi ikut terluka dalam bentrokan dengan para demonstran buruh.
Polisi sudah menahan sedikitnya 25 orang. Dalam aksinya, para pekerja sempat memblokir jalan di Fatulla, dan lebih dari 50 orang luka-luka dalam bentrok fisik antara buruh dan polisi.
Pabrik-pabrik Bangladeh membuat produk garmen untuk merk internasional, seperti JC Penney, Wal-Mart, H&M, Kohl’s, Marks & Spencer, Zara dan Carrefour.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang