Inilah Rute Menuju Gunung Api Purba

Kompas.com - 01/08/2010, 15:47 WIB

GUNUNGKIDUL, KOMPAS.com - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyebutkan kawasan Gunung api purba Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata.       "Kawasan ini memiliki potensi yang bisa dikembangkan guna memajukan industri pariwisata daerah, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat," kata gubernur dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tazbir Abdullah pada pelepasan peserta Jelajah Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, di Patuk, Gunung Kidul, Minggu (1/8/2010).       Menurut Sultan, industri pariwisata perlu dikembangkan untuk ikut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Apalagi, kepariwisataan DIY saat ini berada di peringkat dua setelah Bali," katanya.       Ia mengatakan potensi industri pariwisata DIY yang didukung dengan keanekaragaman objek dan kesiapan sarana serta prasarana penunjang, ditambah dengan sumber daya manusia yang berkualitas, diharapkan bisa dikembangkan optimal.       "Untuk itu, potensi-potensi lokal dapat dijadikan ikon wisata, di antaranya dengan memunculkan desa wisata, agro wisata, wisata kuliner, serta penyelenggaraan kegiatan massal seperti Jelajah Wisata Gunung Api Purba Nglanggeran ini.       Namun, gubernur DIY mengingatkan kekayaan maupun potensi lokal sebagai modal dasar tersebut, pemanfaatan dan pengembangannya harus benar, tepat, realistis, serta berkesinambungan.       Sementara itu, Bupati Gunung Kidul Sumpeno Putro mengatakan potensi alam yang mendukung sektor pariwisata harus memperoleh perhatian tersendiri untuk digarap sebagai salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD).       Ketua Pengelola Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran Sugeng Handaka mengatakan jumlah peserta jelajah wisata gunung api purba ini melampaui target.       Menurut dia, jumlah pesertanya sekitar 3.200 orang, atau melebihi kapasitas, padahal pihaknya telah menolak permintaan tiket, baik perorangan maupun rombongan. "Bahkan kami menolak rombongan pendaftar yang jumlahnya 100 orang lebih," katanya.       Para peserta datang dari sejumlah kabupaten di DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sebagian dari peserta tergabung dalam jaringan pariwisata Karismapawigoro, yaitu Kabupaten Karanganyar, Wonogiri, Magetan, Pacitan, Ngawi, dan Ponorogo.      

Ketinggian 200-700 mdpl          Gunung Nglanggeran terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul.  Gunung api purba itu berada di kawasan Baturagung, bagian utara wilayah Gunung Kidul dengan ketinggian antara 200-700 mdpl (meter di atas permukaan laut), dengan suhu udara rata-rata 23 derajat celcius -27 derajat Celcius.         Dari kota Wonosari jarak tempuhnya 20 kilometer untuk sampai ke gunung api purba tersebut. Sedangkan dari kota Yogyakarta, sejauh 25 kilometer.       Ada dua jalur jalan untuk menuju ke lokasi itu. Jika dari Wonosari bisa melewati Bunderan Sambipitu, ambil kanan ke arah Dusun Bobung (pusat kerajinan topeng), kemudian menuju Desa Nglanggeran.       Sedangkan jika dari Yogyakarta, ketika sampai Bukit Bintang Patuk, Radio GCD FM belok ke kiri hingga sejauh tujuh kilometer (arah ke Desa Ngoro-oro yaitu lokasi beberapa stasiun transmisi ), kemudian menuju Desa Nglanggeran hingga sampai Pendopo Joglo Kalisong/Gunung Nglanggeran.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau