Protein dalam Urin Deteksi Gagal Ginjal

Kompas.com - 02/08/2010, 09:28 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Para dokter kini dapat mendeteksi kemungkinan gagal ginjal sekaligus melindungi pasiennya dengan cara memantau salah satu kandungan protein dalam urin.

Pasien yang memiliki kadar albuminuria tinggi, berisiko lima kali lipat menderita gagal ginjal akut, demikian hasil riset terbaru yang dimuat Journal of the American Society of  Nephrology.

Albumin merupakan salah satu protein utama dalam plasma manusia dan menyusun sekitar 60 persen dari total protein plasma. Kadar albumin normal dalam urin berkisar antara 0-0,04 gr/L/hari. Keberadaan albumin dalam urin dengan jumlah yang melebihi batas normal, dapat mengindikasikan terjadinya gangguan dalam proses metabolisme tubuh.

Para ahli dari Johns Hopkins University, Baltimore, menyatakan pemantauan protein dalam urin melalui tes yang mudah dan murah mungkin dapat digunakan sebagai cara mendeteksi gangguan ginjal dan memperbaiki metode pemeriksaan saat ini.

Gagal ginjal akut, yang kerap terjadi saat pasien berada di rumah sakit, tercatat mencapai 1,6 persen dari seluruh pasien di rumah sakit dan terjadi ketika ginjal tiba-tiba kehilangan kemampuan menyaring produk limbah dari darah.

Gagal ginjal akut dapat disembuhkan jika pasien cukup sehat. Namun sering menyebabkan penyakit ginjal kronis dan gagal ginjal yang memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal.

"Berpotensi untuk disembuhkan, tetapi tidak selalu. Dan alasan mengapa kami sangat khawatir dengan gagal ginjal akut adalah hal itu dapat menyebabkan hal-hal buruk di masa depan, meningkatkan risiko kematian, dan berisiko menjadi penyakit ginjal kronis," ungkap Dr Morgan Grams, salah seorang peneleti. 

Grams bersama timnya meneliti 11.200 pasien dengan mengamati rekam mediknya.  Para pasien telah menjalani tes albuminuria sebagai bagian dari perawatan. Para peneliti itu menemukan bahwa kadar albuminuria yang rendah sekalipun dapat menunjukkan bahwa pasien mengalami gagal ginjal akut.

Gagal ginjal terjadi ketika pasien menerima obat atau suatu bahan melalui intravena untuk membuat organ dalam mereka dapat dilihat selama pemeriksaan tomografi melalui komputer atau pemindaian CAT atau prosedur pada arteri koroner.

"Anda harus menjalani pemindaian CAT, tetapi anda dapat mencoba meminimalkan jumlah bahan yang diberikan atau memberikan bahan yang lebih baik," kata Gram.

Menurut American Society of  Nephrology, hampir 30 juta orang di Amerika Serikat, atau 10 persen dari jumlah penduduk negara itu, menderita penyakit ginjal kronis. Lebih dari 100.000 orang AS didiagnosa menderita gagal ginjal setiap tahun, dengan diabetes sebagai penyebab utama.

Para dokter memiliki prosedur yang jelas untuk mengukur faktor risiko penyakit ginjal kronis. Mereka menguji kadar serum kreatinin dalam darah. Mereka menyesuaikan pengukuran itu untuk faktor risiko demografi seperti usia, jenis kelamin dan ras. "Ini untuk mengukur populasi keseluruhan dari orang-orang yang berisiko menderita cedera ginjal akut," kata Grams.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau