JAKARTA, KOMPAS.com - Sosialisasi mengenai penggunaan gas elpiji 3 kilogram yang aman dinilai masih lemah. Padahal hal itu merupakan program pemerintah terkait konversi minyak tanah ke elpiji yang dicanangkan sejak tahun 2007 silam. Untuk itu, pemerintah perlu lebih menggalakkan sosialisasi secara langsung ke komunitas.
Menurut pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Huzna Zahir, pemerintah bergerak sangat lamban dalam kegiatan sosialisasi tata cara pemakaian elpiji 3 kilogram yang aman termasuk mengenai masa pakai maupun kelaikan pakai tabung gas elpiji dan aksesorisnya. "Seharusnya pemerintah memeriksa kondisi paket perdana konversi ke komunitas masyarakat," ujarnya.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Indroyono Soesilo, Senin (2/8/2010), di Jakarta, mengakui, sosialisasi mengenai penggunaan gas elpiji 3 kilogram yang aman masih perlu lebih digencarkan. Selama ini sosialisasi sudah berjalan, tetapi masing-masing kementerian teknis terkait masih sibuk mengalokasikan anggarannya.
Untuk itu, hasil rapat koordinasi teknis memutuskan bahwa sosialisasi mengenai program konversi minyak tanah ke elpiji, terutama mengenai penggunaan gas elpiji 3 kilogram yang aman, dipimpin Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). "Anggarannya sudah keluar untuk program sosialisasi sampai Desember," kata Indroyono.
"Jadi, Kementerian ESDM berada di depan dalam kegiatan sosialisasi gas elpiji 3 kilogram," ujar Indroyono.
Kegiatan sosialisasi itu juga melibatkan semua kementerian terkait antara lain Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pihak PT Pertamina selaku pemasok gas elpiji 3 kilogram, dan pemerintah daerah setempat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang