Penyakit dalam

Lindungi si Kecil dari Hepatitis

Kompas.com - 03/08/2010, 03:43 WIB

INDIRA PERMANASARI

Infeksi virus hepatitis B telah lama dikenal keganasannya lantaran dapat berkembang menjadi ganas dan merusak organ hati. Tak hanya pada orang dewasa, bayi justru rentan tertular virus tersebut dan risiko infeksi mengganas justru lebih besar pada bayi ketimbang orang dewasa.

Tak mengherankan jika dalam peringatan Hari Hepatitis pada 28 Juli lalu, imunisasi hepatitis B dini menjadi salah satu yang disuarakan para pemerhati penyakit itu. Hari Hepatitis Sedunia tahun ini merupakan peringatan pertama. Indonesia bersama Brasil berperan besar dengan mengusulkan kepada Executive Board Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada sidang organisasi itu, Mei lalu, agar hepatitis menjadi isu dunia. Usul itu diterima dan ditetapkan pada 28 Juli, sesuai hari lahir Dr Baruch Blumberg yang menemukan hepatitis B pada 1965.

Unggul Budihusodo dari Divisi Hepatologi-Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengungkapkan, hepatitis merupakan peradangan hati yang kebanyakan disebabkan infeksi virus. Ada lima virus hepatitis yang umum, yakni A, B, C, D, dan E.

Hepatitis A dan E ditularkan melalui feses dan makanan serta minuman yang terkontaminasi. Orang kerap menyebut hepatitis A dengan sakit kuning. Kedua jenis hepatitis ini umumnya dapat sembuh sendiri dan tak berbahaya. Sedangkan hepatitis B, C, dan D jauh lebih berbahaya.

Virus hepatitis berada dalam darah dan cairan tubuh. Penularan virus hepatitis B, misalnya, lewat transfusi darah, hubungan seksual tidak aman, penggunaan jarum suntik/atau alat tajam tidak steril, cuci darah, cangkok organ, serta penularan dari ibu ke bayi (vertikal). Namun, ada juga peradangan hati atau hepatitis yang terjadi karena metabolisme atau keganasan kanker.

Hepatitis B dan C merupakan masalah besar di dunia dan jumlah pengidapnya terus bertambah. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, dalam sebuah seminar baru-baru ini, mengatakan, 400 juta penduduk dunia sedang terinfeksi virus hepatitis B (VHB) dan 170 juta orang menderita hepatitis C. Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam hal jumlah pengidap setelah dua negara berpenduduk besar lainnya, yakni China dan India. Diperkirakan, pengidap hepatitis B dan C di Indonesia mencapai 20 juta orang.

Dari ibu ke bayi

Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2007, prevalensi penduduk yang pernah terinfeksi virus hepatitis B ditunjukkan dengan angka Anti-HBc sebesar 34 persen dan cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Perjalanan hepatitis B menahun sering kali tanpa gejala selama bertahun-tahun sehingga seseorang tidak sadar mengidap virus tersebut dan berpotensi menularkan. Terkadang keluhannya hanya lemas, lekas lelah, gangguan pencernaan, kembung, mual, dan hilang nafsu makan. Jika yang mengidap virus hepatitis B itu seorang calon ibu, ada risiko penularan dari ibu ke anak.

M Juffrie dari Unit Kerja Koordinasi Gastro-Hepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, dalam acara temu media mengenai hepatitis, pekan lalu, menyatakan, jika ibu positif HBsAG dan HBeAG, risiko anak tertular 70 persen-90 persen. Jika ibu hanya positif HBsAG, 5-20 persen risiko anak tertular.

Umur saat terpapar virus hepatitis B juga memengaruhi keganasan. Infeksi virus hepatitis B pada bayi sejak lahir (tertular ibu) memiliki risiko kronisitas lebih dari 90 persen. Jika usia terpapar 1-5 tahun lewat penularan horizontal (dari luka terbuka atau injeksi tidak aman) risiko kronisitas 25-30 persen. ”Berbeda dengan orang dewasa. Risiko hepatitis B menahun dan kemudian terjadi kronisitas, seperti sirosis atau kanker hati, jauh lebih rendah pada orang dewasa penderita hepatitis B, yakni 5-7 persen. Pada orang dewasa, infeksi hepatitis C justru berisiko mengganas lebih besar, sekitar 80 persen,” ujar Juffrie.

Perjalanan infeksi hepatitis B    hingga terjadi sirosis pada bayi dan anak juga jauh lebih cepat. ”Pada bayi, sirosis dapat terjadi dalam hitungan bulan. Jangan heran, bayi masih usia tujuh bulan sudah mengalami sirosis. Bayi berak dan muntah darah,” ujarnya. Pada orang dewasa, perjalanan infeksi virus hepatitis B hingga sirosis atau kanker hati bisa bertahun-tahun.

Vaksin hepatitis B

Sejauh ini vaksin hepatitis B digunakan untuk melindungi bayi dari infeksi hepatitis B. Menurut Juffrie, vaksinasi menjadi sangat penting. ”Terlebih, semakin dini infeksi pada bayi, sangat tinggi risikonya menjadi parah. Kuncinya, pemberian vaksin pada nol hari,” ujarnya.

Vaksinasi hepatitis B sebanyak tiga dosis terbaik dilaksanakan pada 12 jam pertama sejak kelahiran. Vaksinasi berikutnya 1 bulan kemudian dan dosis terakhir 3-6 bulan berikutnya. ”Ada perbedaan jadwal antara pemerintah dan Ikatan Dokter Anak Indonesia, tetapi tidak masalah. Jadwal pemerintah disederhanakan agar bisa dibarengkan dengan vaksinasi lain untuk efisiensi dan meningkatkan cakupan,” ujarnya.

Sekitar 95 persen bayi yang divaksin bisa membangun kekebalan pada hepatitis B dan durasi kekebalannya mencapai 20 tahun atau lebih. Tidak direkomendasikan vaksinasi ulang. ”Tetapi, jika ingin di-booster, dapat dilakukan pada saat anak memasuki setidaknya usia 18 tahun,” ujarnya.

Di Indonesia, vaksin hepatitis B telah menjadi bagian dari program imunisasi. Pemberian imunisasi hepatitis B guna memutuskan rantai penularan dari ibu pengidap kepada bayinya dan memberikan perlindungan hepatitis B pada masa mendatang. Kini, vaksinasi hepatitis B digabung dengan vaksinasi DPT—menjadi DPT/HB kombinasi sejak 2004. Vaksinasi massal ditujukan bagi bayi baru lahir sampai berusia 1 tahun secara cuma-cuma.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau