Sandhy Sondoro: Minyak Zaitun Vs Minyak Jelantah

Kompas.com - 03/08/2010, 15:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Vokalis beraliran soul R&B, Sandhy Sondoro, mengaku pencinta kuliner. Hampir segala masakan di Eropa dan di Tanah Air menggugah selera makannya.

"Kalau lagi di Jerman saya suka kangen sama masakan Indonesia seperti ketoprak yang didorong-dorong," kata Sandhy saat ditemui di Hotel Le Grandeur, Jakarta Pusat, Senin (2/8/2010).

Namun, lanjut Shandy, giliran sedang berada di Indonesia, pelantun "Malam Biru" tersebut justru merindukan masakan Jerman, negara yang ia diami selama 18 tahun. "Giliran di Indonesia saya suka kangen sama masakan di sana," ujar Sandhy.

Sandhy, yang menyadari dirinya punya selera makan yang besar, mengaku tetap selektif dengan memilih makanan yang disantapnya. "Saya suka salad Jerman, cuma pakai minyak zaitun saja. Emang rasanya kurang enak, tapi sehat," jelas Sandhy.

"Nah, makanan Indonesia itu enak-enak tapi kurang sehat, apalagi kalau yang di pinggir jalan itu kadang suka dimasak pakai minyak jelantah," sambungnya.

Jadi? "Ya ngeri juga begitu umur 50 tahun malah kena segala penyakit, kolesterol, jantunglah, apalah," ujar Sandy diiring tawanya yang khas. (FAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau