Kawasan pangan

Pertanian Kian Meninggalkan Petani Kecil

Kompas.com - 04/08/2010, 03:30 WIB

HERMAS E PRABOWO

Harian Kompas bersama aliansi NGO yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Pangan Nusantara dan Lead Associate Cohort 14 menyelenggarakan diskusi bertema ”Masa Depan Petani dan Pertanian Indonesia” pada 13 Juli 2010 dengan studi kasus Kabupaten Merauke, Papua.

Pembicara dalam diskusi tersebut adalah Arya Hadi Dharmawan (ahli ekologi politik dan sosiologi pedesaan Institut Pertanian Bogor), Witoro (MPPN), Joseph Rinto (Sekretaris Daerah Kabupaten Merauke), dan P Dicky H Joseph Ogi (Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke) dengan moderator Indro Surono dari Cohort 14. Berikut hasil dari diskusi tersebut.

Peta politik global terkait isu pemenuhan pangan, pakan, dan energi makin menunjukkan wajah aslinya.

Pengembangan pangan secara luas dengan melibatkan korporasi dianggap sebagai solusi. Indonesia juga mengikuti langkah itu dengan merintis pengembangan pertanian pangan dan energi skala luas dan terintegrasi di Merauke, Papua (MIFEE).

Pengembangan usaha skala mikro atau dalam bentuk uji coba oleh para investor dilakukan sejak tahun 2008 antara lain oleh Medco Group, PT Bangun Tjipta Sarana, dan Grup Artha Graha. Ada 24 perusahaan yang tertarik menanamkan modal dalam pengembangan pertanian pangan dan energi di Merauke.

Bidang investasi yang dipilih adalah perkebunan (tebu dan sawit), tanaman pangan (padi, jagung, kedelai, sorgum), serta peternakan. Data Pemerintah Kabupaten Merauke menunjukkan, luas lahan untuk investasi 2,823 juta hektar. Lahan yang berizin lokasi 670.659 hektar.

Dengan MIFEE, Merauke dijadikan basis produksi pangan nasional di Indonesia bagian timur. Joseph menyatakan, di sana akan dibangun industri pertanian terintegrasi dan dikembangkan pertanian modern.

Dengan sistem itu, diharapkan harga komoditas pangan dan energi yang dihasilkan bisa menjadi lebih murah sehingga mampu bersaing di pasar global.

Di hulu, dibangun industri pembibitan untuk menjamin pasokan bibit kualitas terbaik. Pemerintah akan mengembangkan badan usaha milik daerah atau badan usaha milik petani yang memberikan jaminan pasar dan harga.

Infrastruktur jalan dan pelabuhan dibangun. Begitu pula jembatan, irigasi, pabrik pupuk organik, gudang, sarana pascapanen, terminal agropolitan, dan pabrik pengolahan hasil. Pengembangan usaha agribisnis pedesaan, program Kementerian Pertanian, pun hadir.

Tahun 2012 direncanakan mulai penanaman lahan pengembangan, pembangunan kawasan industri, pengembangan kawasan ternak, pengembangan perikanan darat, penataan permukiman, dan pembangunan bengkel serta gudang alat produksi pertanian.

Bila segalanya berjalan baik, ekspor perdana komoditas pertanian dari Merauke bisa dilakukan tahun 2014. MIFEE juga akan menjadi kawasan agrowisata terpadu.

Lantas, di mana peran masyarakat lokal dan petani kecil bila korporasi masuk ke budidaya pertanian?

”Kota pulau”

Menurut Arya, tak bisa dimungkiri, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pusing tujuh keliling memenuhi kebutuhan pangan 240 juta orang. Di sisi lain, lahan pertanian menyusut, terutama di sentra produksi pangan di Jawa.

Tahun 2040-2050 diperkirakan Jawa akan berubah menjadi seperti Singapura saat ini. Jawa menjadi ”kota pulau” yang seluruh permukaannya disesaki manusia. ”Ini berkah atau bencana,” tanya Arya.

Bagi industri jasa barangkali berkah. Namun, bagi pertanian, terutama dalam konteks penyediaan pangan, ini bencana. Pada masa datang, Indonesia tak mungkin menjadikan impor pangan sebagai jalan keluar untuk mengatasi masalah pangan karena negara lain juga menghadapi isu serupa.

Lalu, di mana posisi Merauke? Merauke adalah salah satu kawasan potensial untuk produksi pangan. Namun, pengembangan MIFEE yang ”ceroboh” menciptakan masalah serius.

Bila Papua dijadikan sebagai solusi, ceritanya bakal tak jauh beda dengan Kalimantan. Laju deforestasi akan tinggi dan krisis ekologi bakal menghadang.

Selain krisis ekologi, bencana yang tak kalah mengerikan adalah ancaman krisis identitas kebudayaan. Menyitir pendapat Prof Emil Salim, persoalan yang melanda Papua bukan masalah ekonomi, tapi masalah populasi penduduk di sana, yang sekarang banyak ”berambut lurus”.

Tahun 1960 populasi ”rambut lurus” di Papua 3 persen, kini 53 persen. ”Kita boleh berempati dengan mereka. Bagaimana bila tiba-tiba di Indonesia dipenuhi warga bule, apakah kita merasa nyaman?” tanya Emil.

Bagi masyarakat Papua, timbul sentimen etnisitas. Kekhawatiran bahwa seiring dengan MIFEE, yang menggunakan teknologi modern, banyak pekerja dari luar Papua akan didatangkan. Tentu ini akan menambah parah krisis identitas kebudayaan warga Merauke.

Persoalan lain adalah krisis agraria. Dalam budaya Papua, tanah dikaitkan dengan dimensi adat. Dengan MIFEE, akses masyarakat adat Papua atas lahan akan berkurang sehingga yang terjadi di Papua saat ini adalah ekonomi versus ekologi dan ekonomi versus identitas.

”Kalau pemerintah membawa food estate di Merauke, artinya menghadapkan ekonomi korporasi berteknologi tinggi dengan populisme di sana, bukan hanya petani kecil, tapi juga masyarakat lokal,” kata Arya.

Kenyataan ini diperkuat dengan pendapat Emil Salim yang dikutip Arya. Di mana strategi pertumbuhan ekonomi di Indonesia menciptakan ketimpangan yang luar biasa. Ada tujuh provinsi yang mengalami ”kebocoran” setor ke Jawa. Salah satunya Papua.

Apakah food estate juga merupakan pengisapan baru ekonomi Papua ke Jawa?

Di sisi lain, Witoro mengingatkan adanya kerawanan pangan, yang sebagian besar menimpa petani dan masyarakat pedesaan serta masyarakat perkotaan yang terpinggirkan.

Bila selama ini petani mengolah lahan dengan cara seadanya untuk memenuhi pangan mereka, kini mereka dihadapkan pada perusahaan besar yang mengambil alih lahan mereka. Terjadi proses peminggiran petani. Ini akan memicu peningkatan kerawanan pangan.

Menurut Joseph, masalah kemiskinan dan kerawanan pangan petani sebenarnya soal skala usaha. Syarat mutlak peningkatan kesejahteraan petani adalah perluasan skala usaha dan modernisasi pertanian. Petani di Jawa umumnya berlahan sempit sehingga sulit sejahtera. Berbeda dengan Merauke.

Lahan pertanian di sana luas, tapi tak tergarap.

Dengan MIFEE, pembangunan tercipta, lapangan kerja ada dan menggerakkan ekonomi untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.

Dalam konsepnya, masyarakat di Merauke tak akan jadi penonton. Mereka berkolaborasi menjadi petani plasma.

Mereka tak menjual lahan pertanian kepada pihak lain, tetapi menyewakan kepada para pengusaha. Akankah MIFEE mampu menyejahterakan masyarakatnya?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau