YOGYAKARTA, KOMPAS - Temuan kasus leptospirosis di DIY terus melonjak. Hingga pertengahan tahun ini, 169 pasien terjangkit leptospirosis dan 13 di antaranya meninggal. Masyarakat diimbau mewaspadai dan mencegah penyakit yang ditularkan dari air kencing tikus ini.
Peningkatan kasus di DIY cukup tajam karena tahun lalu hanya ditemukan 92 kasus yang enam di antaranya meninggal. Temuan kasus tertinggi tahun ini terjadi di Bantul. "Sebanyak 40 persen dari penderita adalah petani," kata Kepala Seksi Surveilans Dinas Kesehatan Bantul T Bintarta.
Pada Selasa (3/8), Sekretariat Bersama Kartamantul (Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul) memfasilitasi rapat koordinasi penanganan leptospirosis yang dihadiri perwakilan kabupaten/kota. Manajer Kantor Sekber Kartamantul Ferry Anggoro S mengatakan, kasus leptospirosis lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan demam berdarah.
Menurut Bintarta, persentase kematian akibat demam berdarah hanya 0,5 persen, sedangkan leptospirosis mencapai 10 persen. Kasus leptospirosis pernah terbiarkan karena pemerintah lebih fokus penanganan penyakit populer. "Penanganan jangan sampai terlambat. Obatnya sebenarnya sederhana, hanya antibiotik biasa," ujarnya.
Emi Rusdiyati dari Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY menambahkan, pemerintah provinsi telah menyediakan alat diagnosis penyakit atau leptoteks di puskesmas yang rentan leptospirosis untuk deteksi dini. Masyarakat diimbau berperilaku bersih dengan membersihkan air tergenang, menutup makanan, mencuci tangan dengan sabun, serta memakai pelindung diri ketika ke sawah.
Cukup tinggi
Leptospirosis, ujar Staf Akademik Epidemologi Lapangan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Citra Indriani, dapat menjangkiti semua orang yang memiliki riwayat terpapar air sungai/selokan/kolam, memiliki hewan ternak di rumah, dan pernah bersinggungan dengan habitat tikus.
Indonesia tergolong negara dengan insidensi leptospirosis cukup tinggi dan menduduki peringkat kematian ketiga di dunia. Kasus leptospirosis di DIY mulai ditemukan sejak 2006 dengan gejala awal penyakit berupa demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga mata menguning.
Ditemui terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Bantul Siti Noor Zaenab Syech Said mengatakan, salah satu pemicu korban meninggal karena pasien telat dibawa ke rumah sakit. "Biasanya ketika dibawa sudah komplikasi sehingga tidak terselamatkan. Keterlambatan penanganan karena masyarakat belum familiar dengan leptospirosis," katanya.
Untuk mengenalkan kepada masyarakat, dinas kesehatan sengaja memajang tiruan tikus di pameran Bantul Ekspo di Pasar Seni Gabusan. Tikus adalah binatang pembawa kuman leptospira melalui air kencingnya. Leaflet soal leptospirosis juga dibagikan kepada para pengunjung.
Zaenab mengatakan, tingginya kasus leptospirosis di Bantul, salah satunya, karena posisi daerah tersebut sebagai daerah hilir. Semua aliran sungai dari arah utara mengalir ke selatan dengan melintasi Bantul. (ENY/WKM)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang