Penyebaran penyakit

Waspadai Lonjakan Kasus Leptospirosis

Kompas.com - 04/08/2010, 15:11 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Temuan kasus leptospirosis di DIY terus melonjak. Hingga pertengahan tahun ini, 169 pasien terjangkit leptospirosis dan 13 di antaranya meninggal. Masyarakat diimbau mewaspadai dan mencegah penyakit yang ditularkan dari air kencing tikus ini.

Peningkatan kasus di DIY cukup tajam karena tahun lalu hanya ditemukan 92 kasus yang enam di antaranya meninggal. Temuan kasus tertinggi tahun ini terjadi di Bantul. "Sebanyak 40 persen dari penderita adalah petani," kata Kepala Seksi Surveilans Dinas Kesehatan Bantul T Bintarta.

Pada Selasa (3/8), Sekretariat Bersama Kartamantul (Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul) memfasilitasi rapat koordinasi penanganan leptospirosis yang dihadiri perwakilan kabupaten/kota. Manajer Kantor Sekber Kartamantul Ferry Anggoro S mengatakan, kasus leptospirosis lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan demam berdarah.

Menurut Bintarta, persentase kematian akibat demam berdarah hanya 0,5 persen, sedangkan leptospirosis mencapai 10 persen. Kasus leptospirosis pernah terbiarkan karena pemerintah lebih fokus penanganan penyakit populer. "Penanganan jangan sampai terlambat. Obatnya sebenarnya sederhana, hanya antibiotik biasa," ujarnya.

Emi Rusdiyati dari Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY menambahkan, pemerintah provinsi telah menyediakan alat diagnosis penyakit atau leptoteks di puskesmas yang rentan leptospirosis untuk deteksi dini. Masyarakat diimbau berperilaku bersih dengan membersihkan air tergenang, menutup makanan, mencuci tangan dengan sabun, serta memakai pelindung diri ketika ke sawah.

Cukup tinggi

Leptospirosis, ujar Staf Akademik Epidemologi Lapangan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Citra Indriani, dapat menjangkiti semua orang yang memiliki riwayat terpapar air sungai/selokan/kolam, memiliki hewan ternak di rumah, dan pernah bersinggungan dengan habitat tikus.

Indonesia tergolong negara dengan insidensi leptospirosis cukup tinggi dan menduduki peringkat kematian ketiga di dunia. Kasus leptospirosis di DIY mulai ditemukan sejak 2006 dengan gejala awal penyakit berupa demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga mata menguning.

Ditemui terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Bantul Siti Noor Zaenab Syech Said mengatakan, salah satu pemicu korban meninggal karena pasien telat dibawa ke rumah sakit. "Biasanya ketika dibawa sudah komplikasi sehingga tidak terselamatkan. Keterlambatan penanganan karena masyarakat belum familiar dengan leptospirosis," katanya.

Untuk mengenalkan kepada masyarakat, dinas kesehatan sengaja memajang tiruan tikus di pameran Bantul Ekspo di Pasar Seni Gabusan. Tikus adalah binatang pembawa kuman leptospira melalui air kencingnya. Leaflet soal leptospirosis juga dibagikan kepada para pengunjung.

Zaenab mengatakan, tingginya kasus leptospirosis di Bantul, salah satunya, karena posisi daerah tersebut sebagai daerah hilir. Semua aliran sungai dari arah utara mengalir ke selatan dengan melintasi Bantul. (ENY/WKM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau