Robot Mahasiswa Terhenti pada Kontes

Kompas.com - 04/08/2010, 15:51 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Penelitian dan rekayasa robot tingkat mahasiswa sulit mencapai tingkat terapan. Selama ini, penguasaan dan pengembangan robot sebatas pada kontes-kontes saja. Padahal, kemampuan dan penguasaan ilmu robotika mahasiswa memadai untuk diterapkan.

Ketua Kelompok Studi Robotika Program Studi Elektronika dan Instrumenstasi (Elins) Fakultas Matematika dan IPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Pramudita Johan Iswara (20) mengatakan, kesulitan itu disebabkan minimnya dana serta komponen yang diperlukan.

"Komponen-komponen masih harus dibeli di luar negeri. Jenis di Indonesia sendiri masih sangat terbatas," katanya di Yogyakarta, Selasa (3/8).

Di Jepang dan Korea Selatan, rekayasa robot menghasilkan produk jadi dengan spesifikasi khusus, seperti robot pelayan restoran dan robot binatang. Rekayasa robot dalam produk jadi itu disorot dunia internasional sehingga mengangkat nama negara asal pengembang.

Menurut Pramudita, riset mahasiswa Elins UGM sudah mengarah pada pengembangan robot terapan, seperti robot pendeteksi bahan peledak jarak jauh maupun robot pemilih barang berdasarkan warna. Namun, robot-robot itu baru dalam bentuk prototipe.

Pada Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UGM, beberapa mahasiswa sukses mengembangkan prototipe robot penjinak bom dan robot mirip manusia (humanoid). Namun, penerapannya belum spesifik.

"Robot-robot ini masih dalam ukuran kecil dan baru punya pola gerak, tetapi belum spesifik penerapannya seperti di Jepang dan Korea," kata mahasiswa Teknik Elektro UGM, Wicaksono Abdulrahim (22), yang telah tujuh kali mengikuti kontes robot.

Wicaksono menuturkan, mahasiswa peminat rekayasa robot biasanya mengadu kemampuan di kontes-kontes robot. Sebagian besar kontes itu dari jenis sama, yaitu penjejak garis (line follower). Di tingkat nasional terdapat kompetisi nasional Kontes Robot Indonesia, Kontes Robot Cerdas Indonesia, serta Kontes Robot Seni Indonesia.

Beberapa tahun terakhir, jumlah kontes robot meningkat hingga lebih dari 10 kontes setahun. Di Yogyakarta saja dalam setahun terdapat tiga kontes robot line follower tingkat mahasiswa. Salah satunya "Robotline Follower Contest" yang diselenggarakan Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UGM akhir Juli lalu.

Kontes diikuti 87 tim robot dari 11 universitas di seluruh Indonesia, di antaranya UGM, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Padjadjaran. Sejumlah kontes robot juga diselenggarakan untuk tingkat SMA dan SMP. (IRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau