YOGYAKARTA, KOMPAS - Penelitian dan rekayasa robot tingkat mahasiswa sulit mencapai tingkat terapan. Selama ini, penguasaan dan pengembangan robot sebatas pada kontes-kontes saja. Padahal, kemampuan dan penguasaan ilmu robotika mahasiswa memadai untuk diterapkan.
Ketua Kelompok Studi Robotika Program Studi Elektronika dan Instrumenstasi (Elins) Fakultas Matematika dan IPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Pramudita Johan Iswara (20) mengatakan, kesulitan itu disebabkan minimnya dana serta komponen yang diperlukan.
"Komponen-komponen masih harus dibeli di luar negeri. Jenis di Indonesia sendiri masih sangat terbatas," katanya di Yogyakarta, Selasa (3/8).
Di Jepang dan Korea Selatan, rekayasa robot menghasilkan produk jadi dengan spesifikasi khusus, seperti robot pelayan restoran dan robot binatang. Rekayasa robot dalam produk jadi itu disorot dunia internasional sehingga mengangkat nama negara asal pengembang.
Menurut Pramudita, riset mahasiswa Elins UGM sudah mengarah pada pengembangan robot terapan, seperti robot pendeteksi bahan peledak jarak jauh maupun robot pemilih barang berdasarkan warna. Namun, robot-robot itu baru dalam bentuk prototipe.
Pada Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UGM, beberapa mahasiswa sukses mengembangkan prototipe robot penjinak bom dan robot mirip manusia (humanoid). Namun, penerapannya belum spesifik.
"Robot-robot ini masih dalam ukuran kecil dan baru punya pola gerak, tetapi belum spesifik penerapannya seperti di Jepang dan Korea," kata mahasiswa Teknik Elektro UGM, Wicaksono Abdulrahim (22), yang telah tujuh kali mengikuti kontes robot.
Wicaksono menuturkan, mahasiswa peminat rekayasa robot biasanya mengadu kemampuan di kontes-kontes robot. Sebagian besar kontes itu dari jenis sama, yaitu penjejak garis (line follower). Di tingkat nasional terdapat kompetisi nasional Kontes Robot Indonesia, Kontes Robot Cerdas Indonesia, serta Kontes Robot Seni Indonesia.
Beberapa tahun terakhir, jumlah kontes robot meningkat hingga lebih dari 10 kontes setahun. Di Yogyakarta saja dalam setahun terdapat tiga kontes robot line follower tingkat mahasiswa. Salah satunya "Robotline Follower Contest" yang diselenggarakan Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UGM akhir Juli lalu.
Kontes diikuti 87 tim robot dari 11 universitas di seluruh Indonesia, di antaranya UGM, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Padjadjaran. Sejumlah kontes robot juga diselenggarakan untuk tingkat SMA dan SMP. (IRE)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang