BOYOLALI, KOMPAS - Bupati Boyolali Seno Samodro menargetkan evaluasi total penambangan galian C di kawasan Merapi dan Merbabu dan menutupnya sebelum Hari Raya Lebaran pada September mendatang. Namun, hal ini terlebih dahulu akan dipersiapkan melalui rapat evaluasi bersama unsur pimpinan daerah di Boyolali.
Penegasan tersebut disampaikan Seno seusai dilantik sebagai Bupati Boyolali Periode 2010-2015, bersama Wakil Bupati Agus Purwanto di Kantor DPRD Kabupaten Boyolali, Selasa (3/8). Mereka dilantik Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo.
"Ini masih warming up (pemanasan) sebelum Lebaran ada evaluasi total. Sebelum Hari Raya (Lebaran) diharapkan galian C resmi tutup, seperti tadi diisyaratkan Gubernur," ujar Seno.
Persoalan penambangan galian C di Merapi dan Merbabu memang sempat diutarakan Gubernur Bibit Waluyo dalam sambutannya seusai melantik Seno Samodro. Menurut Bibit, kerusakan yang ditimbulkan dari penambangan galian C sudah sangat parah. Seharusnya penambangan hanya dilakukan di sungai agar tidak merusak lingkungan daerah tangkapan air.
"Jaga (lingkungan). Jangan nanti bupatinya ikut menambang. Awas! Ikuti kebijakan terdahulu (Bupati Sri Moeljanto)," ujar Bibit.
Adapun Bupati terdahulu Sri Moeljanto bersikap tegas dalam persoalan galian C dengan tidak mengeluarkan izin baru penambangan galian C di Kecamatan Cepogo dan Selo. Selain merusak lingkungan, penambangan galian C juga menyebabkan jalan rusak sekaligus mengancam jiwa masyarakat lewat bahaya tanah longsor.
Selain menitipkan pesan menjaga lingkungan, Gubernur juga meminta bupati yang baru mendorong kesejahteraan masyarakat. Bibit meminta Boyolali terus memperkuat sektor peternakan sapi perah maupun perikanan air tawar yang menjadi kekuatannya selama ini. Bibit juga meminta bupati-wakil bupati untuk mengalokasikan dana APBD dengan baik demi kemakmuran masyarakat.
Gubernur juga mendorong daerah untuk lebih mampu mandiri dari sisi keuangan. APBD Boyolali mencapai sekitar Rp 1 triliun pada tahun 2010, namun persentase pendapatan asli daerah hanya sekitar Rp 80,02 miliar. Hal ini menunjukkan ketergantungan kabupaten terhadap pendanaan dari pusat dan provinsi masih tinggi.
"Saya juga menitipkan agar dikaji potensi Boyolali dan ada kesinambungan (dengan sebelumnya). Tentu harapan yang kuat dari masyarakat bahwa kualitas moral birokrasi juga dipertahankan, jangan mundur," kata Sri Moeljanto, Bupati Boyolali periode 2005-2010. (GAL)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang