Serangan jantung

5 Menit Pertama Selamatkan Nyawa

Kompas.com - 05/08/2010, 14:12 WIB

Kompas.com -  Serangan jantung merupakan keadaan darurat medis. Jangan menunda mencari bantuan medis karena dalam situasi ini setiap waktu berpacu dengan kerusakan otot jantung dan bisa menimbulkan komplikasi bahkan kematian.

Gejala utama serangan jantung adalah rasa tertekan atau remasan kuat di dada. Rasa tertekan ini bisa menjalar ke leher dan terkadang disertai keringat dingin dan rasa lemas. "Bila muncul kondisi ini seseorang harus curiga apakah ia mengalami serangan jantung, apalagi kalau orang itu punya faktor risiko, seperti merokok atau menderita diabetes," kata dr.Santoso Karo Karo, Sp.JP, dari RS.Jantung Harapan Kita Jakarta.

Santoso menjelaskan, dalam 5 menit pertama, orang yang menderita serangan jantung harus segera mencari bantuan medis. "Pergilah ke rumah sakit, bukan tempat dokter praktek karena di rumah sakit tersedia bantuan yang diperlukan untuk membatasi kerusakan jantung," paparnya di sela acara kesehatan jantung di Yayasan Jantung Indonesia, Rabu (4/8/10).

Bila jarak antara rumah sakit dan pasien terlalu jauh, pasien serangan jantung bisa diberi pertolongan darurat dengan mengunyah empat tablet aspirin. Obat antikoagulan seperti aspirin atau heparin akan membuat darah tidak lagi membentuk bekuan.

"Untuk orang yang punya faktor risiko atau riwayat serangan jantung, sebaiknya selalu membawa aspirin ke manapun. Begitu muncul serangan, langsung kunyah-kunyah, bukan di telan dengan air," papar Santoso.

Dalam buku Mayo Clinic Family Health Book disebutkan, di menit-menit awal begitu terjadinya serangan jantung, akan terjadi fibrilasi ventrikel. Irama jantung yang tidak stabil ini menimbulkan denyut jantung yang tidak efektif dan otot jantung bergetar tanpa manfaat. Tanpa perawatan langsung, fibrilasi ventrikel akan mengakibatkan kematian mendadak.

Penanganan pertama serangan jantung adalah pemakaian AEDs (automatic external defribrillators). Penangangan selanjutnya akan dilakukan di rumah sakit, termasuk dengan pemberian obat-obatan untuk memulihkan aliran darah menuju jantung, seperti aspirin.

Dalam kasus serangan jantung, menurut Santoso, terdapat masa emas (golden period) untuk menyelamatkan nyawa. "Dalam waktu 20 menit sejak terjadinya serangan jantung pasien harus mendapat pertolongan. Namun yang penting 5 menit pertama pasien harus curiga sehingga bisa mencari bantuan," katanya.

Yang harus dikenali adalah serangan jantung terkadang muncul tanpa pola yang khas. "Bisa juga berupa rasa nyeri di bagian iga atau lambung sehingga sering dikira sakit maag. Perasaan tertekan juga sering dikira masuk angin sehingga sering terlambat di bawa ke rumah sakit," urainya.

Pada sebagian orang, gejala utama serangan jantung adalah tiba-tiba mengalami napas pendek-pendek yang tidak atau bisa diikuti rasa nyeri dada. Ada juga yang terkena serangan jantung dengan hanya mengalami gejala jatuh pingsan secara mendadak. Yang terpenting, bersikaplah waspada, terutama bila Anda memiliki riwayat keluarga penderita penyakit jantung, merokok, memiliki kadar kolesterol tinggi, atau menderita diabetes.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau