Pemerintah China di Balik Akuisisi Liverpool

Kompas.com - 06/08/2010, 04:37 WIB

LONDON, KOMPAS.com — Soccernet memberitakan, Pemerintah China berperan dalam usaha seorang pengusahanya, Kenny Huang, membeli Liverpool.

Huang sendiri sudah sudah mengaku berminat membeli Liverpool dari Tom Hicks dan George Gillet. Namun, ia membantah telah melakukan penawaran resmi.

Sementara begitu, media-media Inggris mengendus adanya pendekatan akuisisi yang dilakukan pengusaha Siria, Yahya Kirdi. Menurut mereka, negosiasi antara Liverpool dan Kirdi sudah memasuki tahap akhir. Namun, menurut Soccernet, Kirdi tak akan berhasil membeli Liverpool.

Pemberitaan di Inggris menyebutkan, Kirdi mengajukan penawaran tinggi yang memungkinkan Hicks-Gillet meninggalkan Anfield dengan mengantongi keuntungan. Adapun, Huang cuma bersedia membayar sejumlah utang yang ditanggung Liverpool.

Meski begitu, menurut Soccernet, Huang menduduki puncak daftar calon investor Liverpool yang disusun oleh Ketua Eksekutif klub itu, Martin Broughton. Meski tak memberikan keuntungan kepada Hicks dan Gillet, Huang dinilai lebih menjanjikan stabilitas dan kontinuitas ekonomi bagi "The Reds".

Soccernet mengatakan, hal itu dimungkinkan karena Huang mendapat dukungan finansial China Investmen Corporation (CIC), sebuah badan investasi milik Pemerintah China. CIC disebut memiliki aset sebesar 209 miliar poundsterling atau hampir mencapai Rp 3000 triliun.

The Times mengklaim, segera setelah Huang mengambil alih Liverpool, pelatih Roy Hodgson akan mendapatkan kucuran dana sebesar 150 juta poundsterling atau sekitar Rp 2,1 triliun.

Menurut Guardian, CIC telah menjual sejumlah aset di tempat lain demi mendapatkan uang sejumlah yang diperlukan Huang.

"Dalam sejumlah transaksi yang dilakukan sejak 19 Juli lalu, CIC telah menjual saham di Morgan Stanley senilai 558 juta juta dollar AS, setara dengan 251,4 juta poundsterling. Jumlah ini sama dengan utang Liverpool dan merupakan jumlah yang menurut orang dalam (Liverpool) diajukan kepada pihak yang berminat sebagai harga jual," tulis Guardian.

Pernyataan CIC yang dikutip Soccernet mengatakan, "CIC berusaha berkontribusi kepada pengembangan ekonomi lokal. CIC biasanya tak mengambil peranan aktif di perusahaan yang di dalamnya (CIC) berinvestasi atau berusaha memegaruhi operasi perusahaan-perusahaan itu."

Menurut pemberitaan di Inggris, Hicks-Gillet membeli Liverpool dengan uang utang dari Royal Bank of Scotland (RBS) senilai 237 juta poundsterling. Liverpool kesulitan membayar utang sehingga jumlah utang itu kini mencapai 350 juta poundsterling akibat bunga dan denda.

Atas tekanan RBS, Hicks dan Gillet terpaksa memutuskan menjual klub. Media-media Inggris mengatakan, mereka mencari investor yang mau membeli Liverpool dengan nilai lebih sehingga mereka bisa mendapat untung dari akuisisi ini.

Namun, Broughton mengatakan, keputusan akhir berada di tangan Liverpool dan rapat direksi. Ia juga menyatakan, mengutamakan investor yang sanggup menjamin stabilitas ekonomi klub dalam jangka panjang. (SCN/TIM/GUA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau