Tak Pakai Garuda, Dilarang Klaim ke Pemerintah

Kompas.com - 06/08/2010, 14:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau BP Migas tidak akan mencairkan klaim cost recovery atas biaya tiket pesawat perusahaan migas selain yang menggunakan maskapai Garuda Indonesia.

Menurut Wakil Kepala BP Migas Hardiono, pihaknya menolak tagihan tiket pesawat maskapai lain karena pemerintah ingin memberikan nilai tambah bagi perusahaan nasional.

"Cost recovery itu kan biaya yang ditagihkan KKKS kepada pemerintah. Tidak salah dong kalau pemerintah ingin mengembangkan kapasitas yang dimiliki Indonesia dengan ketentuan tersebut," kata Hardiono, Jumat (6/8/2010).

Namun, ketentuan itu hanya berlaku untuk rute-rute yang sudah dilayani BUMN penerbangan tersebut. Artinya, KKKS harus mengutamakan pembelian tiket Garuda Indonesia bagi para petinggi yang ingin melakukan perjalanan dinas, baik lintas provinsi maupun negara.

"Kami mewajibkan semua biaya perjalanan dinas KKKS yang mau terbang keluar negeri dengan Garuda. Saat ini memang Garuda baru melayani penerbangan jarak jauh ke Amsterdam, tapi mereka juga berencana membuka penerbangan ke London, Paris, Frankfurt, Milan, dan Amerika Serikat. Layanan Garuda inilah yang harus digunakan," imbuhnya.

Hardiono mengaku, frekuensi penerbangan pimpinan perusahaan KKKS dari Indonesia banyak dilakukan dengan tujuan Italia, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat. Pasalnya, di negara-negara tersebutlah markas induk KKKS yang beroperasi di Indonesia berasal. "Dari Italia ada Eni Spa Ltd, dari Inggris ada BP Plc Ltd, Salamander, dan Haliburton. Lalu dari Perancis ada Total," ungkap Hardiono.

Selain memberdayakan Garuda Indonesia, BP Migas menurutnya juga akan memberikan keutamaan kepada PT Dirgantara Indonesia. Perusahaan konstruksi pesawat asal Bandung itu ditugaskan untuk menyediakan helikopter yang biasa digunakan KKKS untuk mendukung operasi lepas pantai.

"Selama ini KKKS selalu menyewa helikopter dari luar negeri. Sebut saja ConocoPhilips yang menggunakan helikopter sewaan untuk pergantian kru dari lapangan terbang Matak menuju Natuna," paparnya.

Menurut Hardiono, sudah ada beberapa KKKS yang mengajukan permohonan persetujuan untuk mengadakan helikopter dari PTDI, salah satunya ConocoPhilips. (Gentur Putro Jati/Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau