Gedung pelni terbakar

Api Berasal dari Korsleting Genset Lt 1

Kompas.com - 06/08/2010, 15:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Api yang membakar Gedung Pelni, Jalan Angkasa Raya 18, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (6/8/2010), diperkirakan berasal dari korsleting genset di lantai I.

Kasudin Pemadam Kebakaran Jakarta Pusat Hariadi mengatakan, sebelum api menyala, Gedung Pelni sedang mati listrik. "Jadi, saat itu mati listrik. Petugas mencoba menyalakan genset. Kemungkinan korslet di situ," kata Hariadi di tempat kejadian.

Seusai terjadi korsleting, kata Hariadi, api langsung menjalar cepat melalui panel-panel kabel dalam gedung. Api yang menyala di lantai I kemudian menjalar melalui cerobong panel naik hingga ke yang paling atas, lantai 12. Api itu kemudian tersebar di tiap lantai dan membuat asap membubung tinggi di puncak gedung.

"Ini gedung tua, jadi semua kabel-kabel itu masuk dalam satu panel cerobong. Makanya apinya cepat nyebar dan menyala," kata dia.

Menurut Hariadi, cepatnya api itu menyebar juga disebabkan karena penutup panel yang menggunakan bahan kayu. "Apinya itu menjalar di struktur gedung," katanya.

Hingga kini belum diketahui adanya korban jiwa ditemukan dalam kebakaran tersebut. Namun, tiga orang pegawai di Gedung Pelni sempat terjebak di dalam gedung. Ketiganya saat ini sudah berhasil dievakuasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau