PORT-AU-PRINCE, KOMPAS.com — Sehari setelah pencalonannya sebagai salah satu kandidat presiden Haiti, bintang penyanyi hip-hop Wyclef Jean langsung mendapat hujan kritik. Salah satu pernyataan paling tajam berasal dari rekannya sesama selebriti Amerika, Sean Penn.
Penn meragukan motif pentolan kelompok The Fugees itu mencalonkan diri sebagai presiden negeri yang luluh lantak akibat gempa bumi 7 skala Richter, Januari lalu. ”Dia hampir tidak berbuat sesuatu untuk kita (yang membantu) di Haiti. Dia tidak pernah ada,” ujar Penn kepada CNN seperti dikutip AFP.
Aktor Hollywood tersebut adalah salah satu tokoh masyarakat dari AS yang aktif membantu para korban gempa di Haiti. Melalui organisasi kemanusiaan J/P Haitian Relief Organization yang turut ia dirikan, Penn mengorganisasi kamp untuk menampung 55.000 pengungsi yang kehilangan tempat tinggal setelah gempa.
Penn juga menuduh Jean menyalahgunakan dana bantuan sebesar 400.000 dollar AS yang disumbangkan melalui lembaga bantuan yang didirikan Jean, Yele Haiti Foundation. ”Saya sudah pernah di Haiti, jadi saya tahu apa yang bisa dikerjakan dengan uang sebesar itu untuk membantu orang-orang ini. Jadi, saya ingin melihat seseorang yang benar-benar rela berkorban untuk negerinya, bukan sekadar pamer popularitas,” tandas Penn.
Kritik lain datang dari Eduardo Gamarra, profesor ilmu politik dari Florida International University. Menurut dia, kelemahan utama Jean adalah kurangnya kemampuan manajerial untuk membangun kembali Haiti yang hancur lebur. ”Siapa pun yang jadi presiden nanti, dia harus menjadi seorang manajer yang hebat. Akan tetapi, faktanya, satu-satunya hal yang pernah ia kelola hanyalah bandnya,” ungkap Gamarra.
Jalan Jean menuju kursi kepresidenan memang masih sangat panjang. Setelah pendaftaran awal kandidat pada hari Kamis, Jean harus lolos semacam verifikasi oleh dewan penyelenggara pemilu sebelum diizinkan menggelar kampanye.
Salah satu syarat yang harus ia penuhi adalah dia harus membuktikan belum pernah melepas kewarganegaraan Haiti dan menggantinya dengan kewarganegaraan negara lain. Syarat lainnya, dia harus tinggal di Haiti paling tidak dalam lima tahun terakhir. Dua syarat ini saja sudah sangat sulit dipenuhi Jean.
Jean memang lahir di Haiti, tepatnya di kota Croix-des-Bouquets, dekat ibu kota Port-au-Prince. Namun, sejak kecil ia telah pindah ke Brooklyn, New York, lalu ke Newark, New Jersey, AS.
Hampir sepanjang hidupnya, penyanyi kelahiran 17 Oktober 1972 (umur 37 tahun, tetapi dalam surat pendaftaran sebagai kandidat presiden Haiti, umurnya ia tulis 40 tahun) ini tinggal di AS.
Awal 1990-an, ia membentuk band bernama The Refugee Camp bersama sepupunya sesama imigran dari Haiti, Prakazrel ”Pras” Michel, dan penyanyi soul Amerika, Lauryn Hill. Belakangan, nama band itu lebih populer dengan sebutan The Fugees.
Tahun 1996, The Fugees menyeruak di tengah pentas musik dunia dengan mendaur ulang lagu lama Roberta Flack, ”Killing Me Softly (With His Song)” dan ”No Woman, No Cry” milik Bob Marley.
Popularitas Jean sebagai selebriti ini disebut-sebut sebagai modal utamanya maju menjadi calon presiden. Sebagian besar penduduk Haiti, yang masih berusia di bawah 21 tahun, melihat Jean sebagai simbol harapan dan inspirasi perubahan bagi penduduk negara termiskin di Benua Amerika itu.
Janji perubahan itulah yang dibawa Jean dalam pencalonannya. ”Amerika Serikat punya Obama. Di sini, kalian punya Wyclef. Aku tidak akan meminta uang dari kalian, tetapi aku meminta kekuatan untuk perubahan,” seru Jean di hadapan para pendukungnya saat hendak mendaftar, Kamis.
Jean akan menjadi calon presiden dari Partai Viv Ansanm (Hidup Bersama) dalam pemilu yang akan digelar 28 November mendatang. Ia akan memusatkan kampanyenya pada lima isu penting, yakni pendidikan, lapangan pekerjaan, pertanian, keamanan, dan pelayanan kesehatan.(AFP/AP/Reuters/DHF)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang