Menguji Teknologi yang Memudahkan Kerja Pengemudi

Kompas.com - 07/08/2010, 12:22 WIB

KOMPAS.com - Merupakan kesempatan emas bisa mengikuti event “Mercedes-Benz Driving Experience 2010” di Sentul, Bogor, Jawa Barat yang berlangsung dari 31 Juli sampai 8 Agustus. Khusus untuk wartawan, dilaksanakanan pada 2 Agustus lalu.

Sebagian besar kendaraan yang dipasarkan Mercedes-Benz di Indonesia, bisa dicoba, mulai dari sirkuit mulus sampai tanjakan dan turunan ekstrem. Yah, untuk membuktikan langsung keandalan dan keampuhan teknologinya!

Fitur Canggih Kesan pertama yang sangat menarik, ketika KOMPAS.com disuruh mengemudikan Mercedes-Benz GL350 mengitari sirkuit Sentul mengikuti Mercedes-Benz E250. “Di sini anda bisa membuktikan SUV ini juga mampu bermanuver dengan baik dan tetap nyaman,” jelas Violetta Weykopf sebelum mengitari sirkuit.

SUV GL350 berpostur tinggi ternyata mampu mengikuti saudaranya E250 , sedan yang agak ceper. Selain bermanuver di tikungan, juga melakkan slalom antar-kerucut yang dipasang pada bagian tertentu dari sirkuit.

“Itulah khas dan kehebatan Mercedes-Benz menciptakan teknologi suspensi untuk SUV-nya,” komentar Violetta setelah memandu mengitar sirkuit Sentul 2 lap.

Yah, kerja pengemudi, hanya mengatur pedal gas, rem dan memainkan setir. Selebihnya diaturkan oleh teknologi yang disertakan pada kendaraan tersebut, seperti Electronic Stability Program (ESP), Electronic Traction System (ETS), ABS, Adpative Braking dan sistem keamanan aktif lainnya yang disertakan pada kedaraan ini.

Tanjakan & Turunan Nyali pengemudi diuji. Kendaraan yang digunakan, Mercedes-Benz GL-Class dan G-Class bisa melakukannya dengan mantap: menaiki sudut 45 derajat. Bantuan, hanya petugas yang memberikan aba-aba, dengan bahasa isyarat, pelan, gas atau minta setir diputar ke sedikit ke kiri atau ke kanan.

Dengan teknologi “up hill” GL350 menaiki gunungan buatan tersebut dengan mudah. Pengemudi hanya merasa cemas, saat disuruh berhenti di tengah tanjakan terjal tersebut. Kendaraan seakan mau terbalik ke belakang. Kenyataannya tidak!

Pengemudi tak perlu repot. Tugasnya, selain fokus ke depan mengatur gerak mobil hanya dengan memainkan pedal gas dan rem. Untuk berhenti di tengah tanjakan terjal, cukup menginjak pedal rem. Tak perlu repot menekan pedal rem parkir!

Setelah diam beberapa saat, dengan menekan pedal gas saja, SUV Mercy tersebut terus menanjak sampai puncak tertinggi. Setelah itu turun!

Saat turun, ada rasa gamang. Penyebabnya selain pengaruh gaya G, juga ada rasa takut mobil akan jungkir balik. Pedal rem ditekan berulang-ulang agar tidak meluncur dengan cepat. Kadang muncul suara ”krakk” yang menciutkan nyali.

Untuk menjamin mobil tidak meluncur dengan cepat, Mercedes-Benz melengkapi SUV-nya tersebut dengan downhill speed regulator (DSR) yang diaktifkand dengan menekan tombol. Laju kendaraan pun dibatasi maksimum 12 km/jam.

Tak kalah mencemaskan, ketika SUV tersebut dicoba pada kemiringan samping 37 derajat. Ketika kendaraan miring ke samping, pengemudi dan penumpang khawatir akan terbalik. Ternyata tidak! Kendaraan berjalan lancar. Roda yang terangkat tidak spin! Membuktikan limited slip differential (LSD) berkaja efektif.

ESP dan ABS Tes yang cukup menantang pengemudi adalah memanfaatkan ESP. Mobil dikendalikan tanpa harus mengaktifkan rem. Hanya memegang setir atau mengontrol ketika arahnya berubah, terutama saat membelok pada kecepatan di tikungan tajam. Di sini digunakan sedan C-Class 300! Hasilnya, mantap

Selanjutnya cara memanfaatkan ABS, termasuk anti-skid regulation (ASR) dan ETS. Dua roda pada sisi yang sama berada di permukaan jalan basah dan lincin. Dua lagi di jalan normal. Tidak terjadi spin ketika gas langsung digeber!

Saat menguji ABS, mobil melaju di atas 70- km/jam. Permukaan jalan keramik licin dibasahi. Kanan kiri dipasang cone (kerucut). Kalau ditabrak dapat penalti. Mobil juga harus berhenti pada titik yang telah ditentukan (bila lewat menabrak cone dan mendapat penalti lagi).

Dijelaskan, ABS baru fungsi jika pedal rem terus ditekan sampai mobil berhenti total. Saat mobil masih jalan, pengemudi harus memperhatikan arah mobilnya dan harus bisa mengontrol setir.

S-Class Tiga lap, KOMPAS.com sempat berada di belakang setir S500. Rekan wartawan bilang, Ini mobil SBY maksudnya Presiden SBY). Kata hati, “Kapan lagi bisa membalapkan S500 di Sentul.”

Interiornya mewah dan eksklusif! Untuk memastikan posisi duduk yang mantap tinggal tekan tombol. Setelah itu, tinggal mengikuti pemandu di depan, Violetta dengan E250.

Kendati bongsor dan panjang, S500 meluncur dan bermanuver dengan mantap mengikuti saudaranya yang lebih kecil E250. Begitu finish, Violetta mendekati dan berucap, ”Excellent!”.

“Yah, mobilnya yang excellent!". Setelah itu, mencoba C250, termasuk  mendampingi rekan lain menyetir. Ternyata butuh usaha ekstra dibandingkan S-Class!

Violetta berharap hujan turun saat mengitari sirkuit. Ternyata hanya gerimis! Kesan akhir yang diperoleh, dengan berbagai teknologi terbaru, Mercedes-Benz semakin mudah dikendarai. Karena itu pula, bagi mereka yang beruntung bisa membeli Mercedes-Benz – termasuk S-Class yang umumnya mengandalkan supir - sewaktu-waktu mencoba langsung kehebatan mobil yang dibeli atau dimilikinya.

Kalau mau lebih aman, ikuti program “Mercedes-Benz Driving Experience” yang diselenggarakan setiap tahun. Kekaguman terhadap Mercedes-Benz tidak hanya pada image, kemewahan dan kemampuan memilikinya, akan berkembang pada teknologi dicangkokkan dan  yang pasti membuat kerja mengemudi jadi mudah!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau