KOMPAS.com — Jumat sore (6/8) hujan sedemikian mencemaskan. Petirnya yang galak menyambar-nyambar angkasa, anginnya yang berkesiut merontokkan dedaunan, sementara hujannya yang lebat dengan singkat merendam jalan-jalan dan juga perumahan di Jakarta dan sekitarnya.
Jarang sekali saya secemas malam tadi. Langit yang legam meludahi kami dengan hujan yang tak berkesudahan sepanjang dua jam. Apalagi saya sedang berada di luar rumah. Segera saya hubungi anak-anak saya; si sulung masih di kampus, yang kedua jaga rumah, si bungsu sedang hujan-hujanan di halaman, sedang istri saya sedang rapat di rumah tetangga.
Segera saya terabas hujan. Jalan raya sudah berubah jadi sungai yang santer arusnya, sementara lidah petir yang datang berkali-kali berkilatan menggentarkan semua orang di pinggir jalan untuk merunduk sembunyi.
Ah siapa sangka, harmoni alam yang indah mendadak jadi menakutkan. Siklus alam yang menggenapi kehidupan, mulai dari laut lantas menguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula; sore kemarin jadi seperti monster yang sedang murka.
Kita semua tahu, di negeri ini hujan muson terjadi bulan Oktober sampai April. Sementara di kawasan Asia Timur terjadi bulan Mei sampai Agustus. Siklus muson inilah yang menyebabkan adanya musim penghujan dan musim kemarau.
Tapi ini kali, cuaca jadi sungsang. Bahkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi ancaman curah hujan di Jakarta baru berakhir pada Mei 2010, faktanya meleset jauh.
Inilah mungkin yang disebut anomali cuaca. Musim hujan kali ini bisa berlangsung panjang. Hal ini ditandai dengan semakin naiknya suhu muka laut. Suhu pada Juni 2010, misalnya, rata-rata mencapai 29,56 derajat celsius atau suhu tertinggi tahun ini dan melampaui Mei yang rata-rata 29,2 derajat celsius. Peningkatan suhu muka laut mengindikasikan makin tingginya penguapan air laut yang membentuk awan-awan hujan.
Secara teknis musim kemarau masuk sejak April 2010. Data astronomis menunjukkan, sejak 21 Maret 2010 pukul 00.34 deklinasi matahari bernilai positif. Matahari sudah berada di utara garis ekuator dalam gerak semu tahunan. Observasi pun menunjukkan, rasi bintang Gubug Penceng/Pari (Crux) sudah terlihat di langit selatan sesudah matahari terbenam.
Demikian pula segitiga musim panas, yakni segitiga khayali yang bersudut bintang terang, seperti Vega (rasi Lyra), Altair (rasi Aquilla), dan Deneb (rasi Cygnus). Ketika hal itu terpenuhi, umumnya sebagian besar wilayah Indonesia akan menjalani musim kemarau. Namun kenyataan tak sesederhana itu. Posisi unik Indonesia yang diapit dua benua dan dua samudra membuat cuaca di negeri ini sangat dipengaruhi dinamika antarbenua dan antarsamudra. Dinamika antarbenua menghasilkan sistem angin muson yang bertiup dari Asia menuju Australia atau sebaliknya, yang berganti arah secara periodik setiap enam bulan sekali sehingga menciptakan musim hujan dan kemarau.
Dinamika antarsamudera menghasilkan tiga faktor cuaca nonperiodik: osilasi selatan di Samudera Pasifik, dipole mode di Samudera Hindia, dan osilasi Madden-Julian antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Ketiga faktor cuaca itulah yang selama ini bertanggung jawab atas anomali cuaca di Indonesia. Itu baru bisa diungkap dalam setengah abad terakhir seiring dengan penempatan satelit pengamat cuaca dan oseanografi di orbitnya, seperti satelit TOPEX/Poseidon.
Ah ya, ... Hujan yang cukup memang berkah bagi para petani. Tapi jika berlebihan, ia menjadi petaka yang tak terhindarkan. Itulah sebabnya, pada bulan April saja para petani buru-buru memanen tanaman padinya lebih awal. Sekitar 5.500 hektar tanaman padi di Namlea, Kabupaten Buru, Maluku, dipanen lebih awal. Ini terjadi karena hujan yang tiada henti.
Jika biasanya petani memperoleh 3,5 ton padi per hektar, maka kini mereka harus puas menikmati dua ton saja. Para petani mengaku merugi hingga puluhan juta rupiah.
Tentu, Tuhan maha adil. Di balik bencana Dia senantiasa menyediakan berkah. Dan berkah itu kini jadi milik para pengojek payung, tukang ojek, para pemulung, pencari belut, dan juga pencari kodok.
Konon, selama musim hujan, pendapatan pemburu kodok sawah di Kabupaten Lebak, Banten, meningkat empat kali lipat karena populasi kodok cukup banyak di sawah-sawah warga.
Ah Tuhan, tapi ini kali hujan sedemikian menggetarkan kami. Lihatlah para gelandangan yang meringkuk di bawah kolong-kolong jembatan. Lihatlah anak-anak yang berlindung erat di pelukan ibunya.
Sambil memeluk si bungsu, mulut saya berkomat-kamit. "Wahai Pemilik Kehidupan, alihkan segera hujanMu ke lembah-lembah yang jauh, atau ke bukit-bukit gersang agar pepohonan, perdu, rumput, dan lumut bisa meriap kembali."
jodhi yudono
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang