Iklim:

Derita Petani di Hujan Bulan Agustus

Kompas.com - 07/08/2010, 16:55 WIB

Soekimun (61) tidak memahami, kenapa alam kini seolah-olah memusuhi petani. Akibat pola hujan yang tak menentu tahun ini, hasil panennya berkurang lebih dari separuhnya.

Musim tanam kali ini, petani Dusun Boyong, Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman, itu batal menanam jagung. Curah hujan yang masih tinggi memasuki Agustus ini memaksanya kembali menanam padi karena takut tanaman palawija akan membusuk bila terlalu banyak terkena air. Ini berarti sudah tiga masa tanam Soekimun menanam padi. "Padahal, setelah dua masa tanam padi, seharusnya sekarang ini sudah masanya tanam palawija," katanya di rumahnya yang tak jauh dari obyek wisata Kaliurang, Jumat (6/8).

Bagi Soekimun, curah hujan yang masih tinggi di bulan Agustus ini sungguh tak lazim. Berdasarkan pengalamannya bertani selama puluhan tahun, curah hujan seharusnya sudah berhenti pada Juni sehingga para petani mulai bisa menanam jagung atau palawija jenis lainnya.

Rotasi tanam yang telah dipatuhi sejak dari zaman kakek dan neneknya pun rusak. Padahal, bagi petani, rotasi tanaman ini sangat penting untuk memutus perkembangbiakan hama dan mengembalikan kesuburan hamanya.

"Kalau menanam padi terus-menerus, hama padi seperti walang sangit dan wereng akan terus berkembang biak dan bertambah banyak. Panen jadi semakin sedikit," ucapnya.

Ketakutan Soekimun terbukti. Panen padinya menurun lebih dari separuhnya. Pada kondisi normal, dari sawahnya seluas 3.000 meter persegi Soekimun bisa memanen 16 karung beras atau sekitar 30-40 kilogram. Sekarang, dia hanya tinggal enam karung beras saja.

Hal ini tidak saja dialami Soekimun. Sebagian besar petani di kawasan Sleman kebingungan dengan alam yang kian tak bersahabat ini. Ilmu pertanian yang diwarisi leluhur sejak dulu, tak mampu mengatasi alam yang semakin tak terbaca.

"Tidak saja petani pangan, petani tembakau pun khawatir gagal panen karena curah hujan masih sangat tinggi hingga Agustus ini," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian, Perikanan, dan Perkebunan Kabupaten Sleman Edy Sri Haryanto. Dirundung kesusahan

Kehidupan petani seolah tak lepas dirundung kesusahan. Selain bergelut dengan tingginya harga pupuk dan rendahnya harga hasil pertanian, petani yang kehidupannya bergantung pada konsistensi iklim masih juga menjadi korban pertama dari perubahan alam yang justru lebih banyak disumbang oleh industri dan gaya hidup hidup modern.

Sejumlah ahli mengatakan, cuaca yang semakin tak menentu ini merupakan bagian dari pemanasan global yang terjadi seluruh dunia. Suhu meningkat juga dipicu oleh pembangunan yang tak memperhitungkan kelestarian lingkungan dan polusi udara akibat industri dan meningkatnya kendaraan bermotor lebih banyak diminati masyarakat perkotaan.

Di Kaliurang, suhu terus menghangat mencapai enam derajat Celsius selama 35 tahun terakhir. Hal ini juga akan berdampak pada menurunnya hasil panen karena tanaman pangan, buah-buahan, dan sayuran umumnya sangat tergantung pada suhu tertentu. (IRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau