Hotel Whiz Jogja, Minimalis Modern dan Terjangkau

Kompas.com - 08/08/2010, 12:20 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Hotel Whiz di kawasan Malioboro merupakan salah satu hotel baru di Yogyakarta. Hotel ini bukan hotel bintang lima yang mewah, namun hotel bintang dua plus, yang bisa membuat tidur tetamu nyaman.

Kompas.com merupakan salah satu tamu pertama yang menginap di Hotel Whiz di Jalan Dagen di kawasan Malioboro di pusat kota Yogyakarta, hari Sabtu (7/8/10) malam, sebelum hotel ini resmi dibuka hari Minggu (8/8/10) pagi.

Hotel Whiz Jogja adalah hotel pertama yang dibangun pengembang Intiland. Dalam lima tahun ke depan, jumlah hotel Whiz akan bertambah menjadi 60.

Pembukaan Hotel Whiz Jogja, kata Presiden Direktur dan CEO PT Intiwhiz International Moedjianto Soesilo Tjahjono, dilakukan pada saat yang tepat, menjelang liburan lebaran. “Sudah banyak yang memesan akan menginap di hotel ini. Dan ini membuktikan pasar sangat responsif dengan kehadiran Whiz,” kata Moedjianto.

Sebagai kota wisata, budaya, dan pendidikan, Yogyakarta dinilai pasar yang sangat potensial. Setiap tahun jumlah wisatawan yang datang ke kota ini cenderung meningkat. Tahun 2009 jumlahnya mencapai 1,2 juta orang, dan tahun 2010 ditargetkan naik menjadi 1,75 juta orang.

Menurut Moedjianto, Whiz tidak bersaing dalam harga karena pihaknya akan mengikuti kecenderungan pasar. Jika pada masa-masa tertentu, tarif hotel di Jogja naik, maka Whiz akan menyesuaikan diri. “Kalau semua naik, Whiz tidak naik, nanti dikira kami melakukan dumping. Kami mengikuti aturan regional Jogja,” katanya.

Saat ini tarif kamar single Rp 245.000 nett per malam selama masa promosi hingga 4 September. Setelah itu harga akan normal menjadi Rp 295.000 nett per malam, sedangkan tarif kamar twin sekitar Rp 350.000 nett.

Sementara itu Direktur Eksekutif Intiland Anies Heriyanto W menambahkan,  Whiz hadir bukan bersaing dalam harga. “Intiland menghadikan Whiz dengan harga reasonable. Inilah kelebihan Whiz dibandingkan hotel lain. Kami jamin tamu akan tidur di Hotel Whiz dengan nyaman,” kata Anies.

Whiz menyediakan matras dengan spesifikasi hotel bintang lima. Selain itu, showernya pun dengan brand yang bagus. “Kalau tidur Anda tak nyaman, dan mandi dengan tekanan air tak enak, hotel itu tentu tak nyaman. Nah, Whiz mengatasi problem yang biasa dihadapi hotel bintang dua,” jelas Anies.

Tata letak ruangan di Whiz juga praktis, fungsional dan bersih. “Dibandingkan dengan hotel sejenis, dimana tamu mengeluarkan jumlah uang yang sama, Whiz memberikan services yang berkelas. Walau Anda tidur di hotel bintang dua, tapi services yang diperoleh adalah service hotel bintang tiga ke atas,” ungkap Anies.

Studi selama dua tahun Direktur Operasional Intiland, Ndang Mulyadi mengungkapkan, pihaknya sudah mempelajari selama dua tahun tentang apa yang dibutuhkan business traveler. “Ternyata mereka hanya butuh hal yang simpel dan mudah,” kata Mulyadi.

Umumnya hotel sudah terbebani dengan investasi mahal yang pada gilirannya menyebabkan tarif kamar pun menjadi mahal. Namun Whiz dengan kamar single dan tarif terjangkau, dapat memenuhi kebutuhan satu orang.

Menurut Ndang Mulyadi, dari hasil studi, ternyata okupansi tertinggi hotel ada pada hotel bintang tiga dan bintang dua. “Sayangnya pengelolaan hotel bintang dua banyak yang tidak profesional sehingga kami menangkap peluang terjun dalam bisnis hotel bintang dua. Sangat sulit mendapatkan kenyamanan di hotel bintang dua selama ini,” katanya.

Anies menambahkan,  perbedaan antara hotel bintang dua, 3, 4, 5 sebenarnya dari luas kamar. Kamar hotel Whiz berkisar antara 12 m2, 16m2, dan 16,5m2.

“Jadi kami sudah mempelajari, ukuran kamar itu  sudah cukup nyaman bagi traveler. Kami meminimalisir fasilitas lainnya, seperti swimming pool dan ruang fitnes. Kebutuhan untuk itu, ternyata tidak banyak,” katanya.

Keamanan Soal keamanan hotel, Anies Heriyanto menjelaskan, pihaknya memiliki manajemen keamanan hotel. Setiap pintu kamar tamu menggunakan ke card lock dengan magnetik.

“Ini berarti segala aktivitas di kamar otomatis tersimpan. Jadi kalau ada orang yang masuk tanpa kartu, tidak mungkin terjadi. Kami bisa mengecek melalui rekaman kartu. Kami juga menempatkan CCTV di beberapa tempat,” jelasnya.   Sementara keamanan dari gempa, Anies mengatakan, desain konstruksi bangunan sudah satu tingkat lebih tinggi risikonya sehingga bangunan Whiz jauh lebih aman,

Sedangkan desain ruang kamar, Whiz memberikan sesuatu yang lebih dari hotel sejenis. “Tentu ada perhitungan internal antara biaya pembangunan dengan tarif kamar. Wajarlah jika ada keterbatasan karena hotel ini minimalis,” katanya.

Desain Hotel Whiz Jogja yang minimalis modern tetap memiliki sentuhan tradisional. Misalnya dalam penggunaan kayu dan cermin besar, juga bentuk lengkung pada hotel ini. Jadi tamu yang masuk ke Whiz bukan masuk ke bangunan kuno tapi tetap masuk ke ruangan yang modern dan minimalis dengan sentuhan tradisional daerah setempat,” jelas Anies.

Arsitek Hotel Whiz di kota satu dengan kota lainnya tidak harus sama. Meski menonjolkan konsep minimalis modern, Whiz tetap hadir dengan sentuhan budaya daerah setempat.

Mengapa logo Whiz berwarna hijau? “Whiz berarti smart dan dinamis, dan warna hijau mewakili sesuatu yang dinamis,” kata Ndang Mulyadi. 

Ndang menambahkan pada tahun mendatang, Whiz akan mengembangkan loyalty program seperti kartu keanggotaan  untuk mendapatkan tamu yang sama (repeat guest). (Robert Adhi Ksp)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau