Mengapresiasi Potensi Daerah Lintas Generasi

Kompas.com - 08/08/2010, 21:11 WIB

KOMPAS.com —  Pemilihan Puteri Indonesia (PPI), yang rutin digelar Yayasan Puteri Indonesia sejak 1992, menjadi momen penting bagi banyak daerah. Melalui ajang ratu kecantikan ini, setiap daerah berkesempatan unjuk gigi untuk memaksimalkan potensinya. Jika kebanyakan daerah membongkar potensi wisata, PPI Sumatera Selatan mendobrak persepsi publik dengan mengedepankan pembangunan karakter anak muda, terutama perempuan.

Yayasan Puteri Sumatera Selatan (Sumsel), sebagai penyelenggara PPI di Palembang, melihat ajang pemilihan ini sebagai investasi sumber daya manusia. Konsep inilah yang menguatkan PPI Sumsel dan menjadi perhatian banyak kalangan di Kota Palembang. Setiap perempuan muda yang berhasil berkompetisi hingga tahapan finalis mendapat kesempatan yang sama meningkatkan kapasitas diri melalui yayasan.

"Pasca kegiatan PPI setiap tahun, semua alumni mendapat peran dalam program yayasan setahun penuh. Mereka memiliki sejumlah kegiatan sosial sebagai bagian pemberdayaan masyarakat dan tentu saja mengembangkan potensi dirinya," papar Vera Damayanti, pengelola Yayasan Puteri Sumsel, kepada Kompas Female di sela sesi penjurian 15 finalis PPI Sumsel, Sabtu (7/8/2010) lalu.

Vera meyakini ajang PPI mampu menelorkan perempuan Indonesia yang kuat dan berwawasan luas. Karakter perempuan mandiri dan gigih akan terbentuk selama mengikuti tahapan kompetisi. Alhasil, perempuan muda ini akan menjadi ikon, terutama Puteri Sumsel yang memberikan kesempatan kepada semua finalis dan alumninya untuk berperan sebagai agen perubahan.

"Mereka akan sangat mudah membuka network. Jaringan yang luas akan memudahkan kerja mereka dalam berbagai program kegiatan sosial. Kesempatan belajar dari ajang ini bisa membuat kualitas SDM Indonesia lebih kuat," imbuh Vera.

Daya tarik sosok putri ini juga dinilai lebih mampu menarik perhatian masyarakat, apalagi jika didukung kemampuan verbal yang baik, lanjut Vera. Diharapkan, melalui para perempuan inilah berbagai kampanye sosial, seperti pendidikan, kesehatan, dan lingkungan, bisa diterima lebih baik oleh masyarakat.

"Puteri Indonesia memberikan inspirasi dan diharapkan persepsi orang berubah dengan pesan yang dibawakan perempuan berkualitas, dengan berbagai latar belakang edukasi dan keahlian yang akan mendukungnya," tambah Vera.

Dukungan berlimpah karena misi pemberdayaan anak muda
Konsep berbeda dari PPI Sumsel ini semakin menjaring banyak dukungan. Baik instansi pemerintah maupun swasta berbondong-bondong turut berpartisipasi pada tahun 2010 ini.

Salah satu pihak sponsor bahkan akan memberangkatkan delapan pemenang ke Singapura. Misinya memberikan pengalaman berbeda dan belajar dari negara lain untuk peningkatan kapasitas dirinya.

Selain plesiran, para mereka juga akan mengemban tugas sosial, mendatangi pelosok desa untuk menyebarluaskan berbagai isu yang terkait dengan kehidupan masyarakat.
Tak sembarangan yang terpilih untuk menjalankan misi ini. Karena itu, setiap perempuan perlu mengasah kemampuan berkomunikasi dan tentu saja sikap mental yang mandiri dan berani menerima tantangan.

Kemampuan seperti ini telah terasah selama mengikuti kompetisi. Pada saat seleksi contohnya, peserta PPI Sumsel 2010 diharuskan tampil membawakan keahlian dan bakat yang mereka miliki. Aktivitas itu dilakukan di depan panggung sebuah mal besar di Palembang, disaksikan banyak pengunjung. Terbukti, 10 peserta gugur dari tahapan ini, tak kuat menghadapi tantangannya.

Seleksi PPI Sumsel 2010 memang unik. Untuk menarik sebanyak mungkin peserta, Vera mengerahkan 14 mahasiswanya, hunting perempuan muda berpotensi dari sejumlah kampus dan mal sejak Mei lalu. Alhasil, 80 persen dari total 102 pendaftar didapatkan melalui cara ini.

"Dari 102 pendaftar, 77 orang mengembalikan formulir dan mengikuti tahapan tes tertulis, psikotes, wawancara, dan tes bakat. Dari tahapan in terseleksi menjadi 66 orang lalu dari akumulasi penilaian juri, terpilih 15 finalis," papar Vera, yang mengaku mendapatkan dukungan dari sejumlah media lokal.

Pertunjukan lintas generasi
Grand Final PPI Sumatera Selatan di mulai pukul 19.00, berlangsung di Grand Ballroom Hotel Aryaduta Kota Palembang, Minggu (8/8/2010). Sosok putri ikon Sumsel ditentukan pada malam puncak ini. Karakter perempuan muda mandiri, berkarakter, kuat, dan inspiratif diharapkan semakin menular ke banyak anak muda Sumsel.

Pada acara puncak kegiatan PPI di Palembang, Yayasan Puteri Sumatera Selatan konsisten dengan sasarannya: regenerasi. Namun tak berarti meninggalkan tradisi, terbukti figur ternama yang turut membangun Palembang dengan karya seninya diapresiasi di sini.

Pencipta lagu AT Mahmud, contohnya, menjadi inspirasi bagi acara PPI. Paduan suara mahasiswa Universitas Sriwijaya akan membawakan medley karya-karyanya. Perancang dan pelestari ritual prosesi pernikahan Palembang yang dikenal dengan brand Zainal Songket juga ambil peran. Para finalis akan mengenakan busana Zainal Songket pada peragaan busana. Alumni Puteri Sumatera Selatan juga turut hadir, memberikan dorongan dan motivasi kepada penerusnya. Begitupun dengan para pemenang ajang kontes serupa di Palembang seperti Bujang Gadis Palembang, Bujang Gadis Kampus, Bujang Gadis Sumatera Selatan, dan Koko Cici. Mereka hadir memberikan dukungan, sekaligus juga melakukan gerakan bersama untuk menyukseskan Sea Games 2011 yang akan diadakan di Kota Palembang.

Kebersamaan berbagai kalangan di Palembang ini menunjukkan kesatuan sikap untuk membangun kota yang terkenal dengan pempek ini dengan memberikan kesempatan kepada anak muda. Di tangan generasi muda, Palembang akan semakin berkembang.

"PPI hanya salah satu caranya, yang terpenting adalah pemberdayaan anak muda, perempuan, dan regenerasi," tegas Vera.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau