Perayaan hut kemerdekaan ke-65

Lomba Lempar Tabung Elpiji

Kompas.com - 09/08/2010, 08:44 WIB

KOMPAS.com — Merebaknya kasus tabung elpiji yang tidak aman dan mudah bocor hingga menimbulkan ledakan yang memakan korban jiwa dikritisi secara unik oleh warga RW 5 Kelurahan Tunggulwulung, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur.

Kritik unik akan keamanan tabung dilakukan dengan cara menggelar lomba lempar tabung elpiji ukuran 3 kilogram. Acara ini menjadi rangkaian kegiatan aneka lomba dalam rangka perayaan HUT ke-65 Republik Indonesia.

“Mengapa tabung gas 3 kg? Karena ini sangat dekat dengan kehidupan warga sehari-hari,” terang Darmanto, Ketua RT III, mengenai lomba unik yang diselenggarakan warga RW 5 itu. “Dan kami ingin menyampaikan kritik kepada pemerintah untuk lebih memerhatikan kualitas tabung dan alat yang terkait dengan penggunaan kompor gas. Jangan sampai ada korban karena kualitas tabung atau regulator atau selang yang tidak bagus,” ucapnya.

Pada dinding tabung berwarna hijau yang digunakan untuk lomba, panitia menempelinya dengan tulisan tabung elpiji bocor dan non-SNI. Secara kebetulan, tabung yang digunakan memang tabung yang rusak pada bagian lubang atasnya dan tidak ada logo Standar Nasional Indonesia (SNI) meski tercetak logo dan nama Pertamina di salah satu sisi tabung.

Lomba yang digelar di pinggiran sawah bekas panen itu berlangsung cukup unik. Ibu-ibu secara bergiliran mencoba melemparkan sejauh mungkin tabung kosong seberat 5 kg itu. Siapa yang mampu melempar paling jauh, dia dinyatakan menjadi pemenang.

Satu per satu, ibu-ibu yang biasa berkutat di dapur dan dekat dengan si tabung bulat hijau ini pun beraksi. Ada yang melemparkan tabung seperti orang melempar bola boling, yakni mengayunkan tabung dari bawah dan melepaskan tabung saat posisi lengan ke atas. Namun, ada juga yang bergaya ala atlet tolak peluru serta bergaya ala kadarnya, yakni memegang tabung dengan kedua tangan dan melemparkannya ke arah depan. Lomba ini dimenangi Nyonya Lutfi yang mampu melempar tabung sejauh 6,20 meter.

“Di daerah sini memang tidak pernah ada kejadian gas ngowos atau meledak, tapi kami juga khawatir kalau ada tabung yang tidak beres,” kata Nyonya Lutfi.

Di Kota Malang, korban luka akibat kebakaran yang terjadi oleh ledakan elpiji yang bocor sudah kerap terjadi. Selama 2010 ini, tercatat lebih dari enam kasus yang membawa korban luka karena kebocoran elpiji. Peristiwa terakhir terjadi 28 Juli lalu dan menimpa Susriwati (34), warga Jalan Kapri, RT 5 RW 4, Kelurahan Bumiaji Kecamatan Kedungkandang Malang. Pedagang nasi pecel ini mengalami luka bakar setelah ada kebocoran gas elpiji 3 kg di dapurnya.

Lomba unik 17 Agustusan juga digelar puluhan penyandang cacat dari kelompok Anggrek Penyandang Cacat Berkreasi (PCB) Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Minggu (8/8/2010) sore.

Para penyandang cacat ini tidak ingin kalah dari mereka yang bertubuh normal dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI. Dengan penuh kepercayaan diri serta semangat, mereka berlomba menjadi yang terbaik saat mengikuti berbagai lomba, seperti makan krupuk, bola contong, joget balon, dan balap karung.

Jika biasanya orang berbadan normal berjoget dengan berdiri, mereka terpaksa duduk. Begitu pula saat harus berlari seperti dalam lomba makan krupuk maupun bola contong, mereka berlari dengan merangkak, bahkan ngelesot.

Sedangkan untuk penyandang tunanetra, mereka kebagian menyanyi dengan iringan elekton yang dimainkan Mauludin, penyandang cacat lainnya.

Dengan segala keterbatasannya, para penyandang cacat tampak merasa berbahagia dan berbagi ceria di antara mereka dan juga penonton.

Wong lomba belum digelar saja, kami sudah tertawa-tawa membayangkannya. Apalagi saat acara berlangsung seperti ini, kami benar-benar merasakan kebahagiaan,” terang Sapto Juli Ismiarti, Ketua Anggrek PCB. Lomba-lomba memperingati HUT ke-65 RI ini digelar secara spontan oleh para penyandang cacat. (why/kur)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau